Penyelesai, Pencipta, Penahan: Pembagian Kerja Pemain Asing di Championship 2026/27

Penyelesai, Pencipta, Penahan: Pembagian Kerja Pemain Asing di Championship 2026/27

22 Oktober 2026

PEGADAIAN CHAMPIONSHIP 2026-27

Oleh : Tim Football Academy I.League

Setelah lima pekan, pemain asing mengisi 19,2% menit bermain tetapi mencetak 42,7% gol. Data Lapangbola dan Transfermarkt menunjukkan peran yang terbagi: menyelesaikan serangan, menciptakan peluang, dan menahan bola di udara.

Regulasi Pegadaian Championship 2026/27 ini tidak berubah: tiap klub mendaftarkan tiga pemain asing dan boleh menurunkan ketiganya sekaligus. Setelah lima pekan, pertanyaannya bukan lagi berapa banyak, melainkan untuk tugas apa. Dari 59 pemain asing di Transfermarkt, 54 sudah bermain. Mereka bernilai Rp116,4 miliar, 23,4% dari total nilai pasar liga, padahal hanya 9% dari 641 pemain. 

Gambar 1. Porsi pemain asing dari total liga, dibanding porsi menit bermain mereka (19,2%). Batang gelap berada di atas porsi menit bermain; abu-abu di bawahnya.

Tabel 1. Porsi pemain asing dari aksi di tiap posisi (Lapangbola, GW1–5).

Penyelesai di sepertiga akhir

Posisi penyerang paling jelas. Pemain asing 26 dari 136 pemain yang tercatat di posisi itu, tetapi mengambil 63% tembakan (264 dari 417), 69% tembakan tepat sasaran, dan 70% duel udara yang dimenangkan. Mereka mencetak 45 dari 67 gol penyerang. Penyerang asing yang hanya bermain di satu posisi menembak 3,67 kali per 90 menit dengan 0,65 gol. Sebelas dari 12 gol penalti juga dieksekusi pemain asing; tanpa penalti, porsi gol mereka turun ke 38,4%. Volume tidak selalu berarti hasil. Ezechiel Ndouasel (PSGC) melepas 26 tembakan, terbanyak di liga, untuk tiga gol, sedangkan Javier Siverio (PSMS) membuat 9 gol dari 21 tembakan.

Kualitas penyelesaian terlihat jelas bila pemain disandingkan. Jan Martin Hoel Andersen (RANS) menembak 4,68 kali per 90 menit dan 65% di antaranya tepat sasaran (15 dari 23) untuk 8 gol, ia hanya mencatat tiga umpan kunci dan satu assist, sehingga profilnya penyelesai murni yang disuplai rekan setim. Siverio mengonversi 43% tembakannya (9 dari 21, 12 tepat sasaran) pada laju 4,52 tembakan per 90 menit. Di ujung berlawanan, Ndouasel menembak 5,20 kali per 90 menit, tetapi hanya tujuh (27%) tepat sasaran dengan konversi 11,5%. Patrick Dos Santos Cruz (Kendal) lebih ekstrem: 24 tembakan, 10 tepat sasaran, dan dua gol, keduanya dari titik penalti. Jacinto Junior Cabral (Persela) dan Antonio Augusto Gamaroni (PSPS) berada di tengah, mengonversi 29% dan 22% tembakannya. Bagi pelatih lawan, pertanyaannya bukan siapa yang paling sering menembak, melainkan dari zona mana.


Gambar 2. Penyerang asing (titik navy) dibanding penyerang lokal (titik abu-abu) pada empat metrik per 90 menit. Garis putus-putus menandai rata-rata tiap kelompok. 

Pencipta peluang di lini tengah

Di lini tengah, pemain asing hanya 24 dari 284 pemain, tetapi memberi 26% umpan ke kotak penalti dan 23% umpan kunci. Pada gelandang yang bermain di satu posisi (10 asing, 39 lokal), jaraknya lebar: umpan kunci 2,49 berbanding 1,27 per 90 menit, umpan ke kotak 2,46 berbanding 1,07, dribel sukses 1,36 berbanding 0,62. Sebaliknya, intersep (1,95 berbanding 2,66) dan tackle (1,38 berbanding 1,96) lebih rendah. Merebut bola tetap menjadi tugas pemain lokal. Phillerson (PSMS) contoh ekstremnya: 16 umpan kunci, 12 dribel sukses (terbanyak di liga), dan 20 umpan ke kotak, sama dengan Rian Almeida (Deltras) sebagai yang tertinggi.

Gelandang (10 asing, 39 lokal)

Gelandang asing juga bukan satu tipe. Phillerson (PSMS) dan Jonathan Bustos (PSIS) bekerja sebagai pencipta di kotak penalti. Bustos mencatat 15 umpan kunci dan 16 umpan ke kotak dalam 357 menit (3,78 dan 4,03 per 90 menit), tetapi PSIS baru mencetak lima gol non-penalti, tak satu pun dari pemain asingnya, dan Bustos sendiri melepas 11 tembakan tanpa gol. Rian Almeida (Deltras FC) memadukan 20 umpan ke kotak (4,44 per 90 menit) dengan 13 recovery untuk Deltras, sedangkan Caique Silvio Souza (Persela) terlibat dalam tiga gol (satu gol, dua assist) lewat 14 umpan kunci dan 11 dribel sukses. Matheus Henrique Machado (PSPS) paling berbeda dengan 14 umpan kunci sekaligus 16 recovery, 12 intersep, dan 9 tackle dalam 366 menit. Laju 3,93 recovery per 90 menit itu lebih tinggi daripada rata-rata gelandang lokal (2,58). Di kutub lain, Wbeymar Angulo (Persis) hanya mencatat dua umpan kunci, tetapi 16 intersep dan 10 tackle dalam 450 menit, profil gelandang penjaga ruang. 

Gambar 3. Sebaran gelandang asing dibanding distribusi gelandang lokal. Pita abu-abu menunjukkan rentang P25–P75 pemain lokal dan garis tengahnya median. Phillerson tidak masuk karena bermain di lebih dari satu posisi.

Penahan di belakang

Bek asing hanya 16 dari 176 pemain, tetapi menghasilkan 26% sapuan dan 27% duel udara yang dimenangkan. Per 90 menit, 14 bek asing mencatat 5,71 sapuan berbanding 3,51 milik 61 bek lokal, dan 2,57 duel udara berbanding 1,50. Kontribusi progresifnya kecil: 0,16 umpan ke kotak berbanding 0,70, dan 3,65 umpan ke sepertiga akhir berbanding 4,28. Pola ini mengarah pada penstabil blok rendah, bukan bek pembangun serangan: tugas mereka menutup kotak penalti dan memenangkan bola udara, sementara sirkulasi bola dari belakang dikerjakan rekan lokal. Dari 36 kiper yang bermain, tidak ada satu pun yang asing.

Bek (14 asing, 61 lokal)

Tabel 2. Rata-rata per 90 menit, pemain dengan minimal 180 menit di satu posisi.

Bek asing pun terbagi dua profil. Igor Cukovic (Semen Padang) mencatat 32 sapuan, 12 duel udara, dan 22 intersep dalam 450 menit; Jahanbakhsh Zabihi Taher (Deltras FC) 31 sapuan dalam 423 menit (6,60 per 90 menit) plus dua gol, Angelo Meneses (PSMS) 29 sapuan dan 18 duel udara. Ketiganya di atas rata-rata sapuan bek asing (5,71 per 90 menit). Artur Jesus Vieira (Adhyaksa) paling dominan di udara dengan 23 duel dimenangkan (4,6 per 90 menit) dan 24 intersep. Pengecualiannya Daniel Goncalves (Persela): 35 intersep (7,0 per 90 menit) dan 29 umpan ke sepertiga akhir (5,8 per 90 menit), lebih tinggi daripada rata-rata bek lokal (4,28). Ia membaca permainan sekaligus memulai serangan. Sebaliknya, Tomoki Taniguchi (Persiba) hanya mencatat tiga umpan ke sepertiga akhir dalam 396 menit. Dalam sampel ini, bek asing paling mudah dikenali lewat sapuan dan duel udara, bukan umpan progresif, dengan Goncalves sebagai kasus yang layak dipelajari.


Gambar 4. Sebaran bek asing dibanding distribusi bek lokal. Bek asing berada di sisi kanan pada sapuan dan duel udara, tetapi tidak pada umpan ke sepertiga akhir.

Pemain asing sebagai tumpuan?

Pembagian kerja ini membuat sebagian klub bertumpu pada tiga nama. PSMS menurunkan 3 pemain asing selama 27% menit bermain, tetapi 12 dari 13 gol non-penalti (92%) dan 79% tembakan tepat sasarannya datang dari mereka. Pada GW5, PSMS hanya melepas lima tembakan, satu tepat sasaran, dalam kekalahan 1-2 dari PSPS. Satu laga belum membuktikan kerapuhan, tetapi risikonya terlihat. Deltras berlawanan: tiga pemain asingnya menyumbang 3 dari 13 gol (23%), dan klub itu memimpin Grup Timur dengan 13 poin. PSGC menaruh 52% nilai skuadnya pada tiga pemain asing, tetapi baru mencetak lima gol dalam lima laga.

Tabel 3. Ketergantungan pada pemain asing per klub, dengan nilai pasar dari Transfermarkt. † Persiba baru mencetak dua gol. Nilai asing dalam miliar rupiah.

Pola yang sama terbaca di level klub. RANS mencetak 9 dari 14 gol non-penalti lewat pemain asing, tetapi hanya 15% umpan kuncinya berasal dari mereka: Andersen menyelesaikan peluang yang disiapkan orang lain. PSMS kebalikannya. Pemain asingnya mencetak gol (Siverio), mencipta (Phillerson, bagian dari 37% umpan kunci klub), dan menjaga lini belakang (Meneses), sehingga ketergantungannya melebar ke tiga lini sekaligus. Barito Putera mengambil 47% umpan kuncinya dari pemain asing (Murilo Otávio Mendes: 6 umpan kunci, 19 tembakan, 2 assist) tetapi hanya mencetak 3 dari 8 gol non-penalti lewat mereka. PSIS serupa: 41% umpan kunci dari asing, nol dari lima gol non-penalti. Kendal 0 dari 9, meski Cruz mencatat 24 tembakan dan 12 umpan kunci. Sumsel United mengambil 68% tembakan tepat sasarannya dari asing, tetapi hanya 4 dari 9 gol non-penalti; Ikechukwu Kenneth Ngwoke membuat 10 tembakan tepat sasaran dari 18 tembakan untuk dua gol. Di klub-klub ini, tahap akhir serangan menjadi pertanyaan yang lebih besar daripada akses ke peluang.