Menggerus Kontroversi sang Pengadil

Menggerus Kontroversi sang Pengadil

19 September 2026

BRI SUPER LEAGUE 2026-27

Apa jadinya sepak bola tanpa kehadiran sang pengadil alias wasit di tengah lapangan hijau. Dua tim dengan 22 kepala bakal memiliki persepsi sendiri mengenai jalannya perebutan si kulit bundar. Tentu akan memunculkan ketimpangan, karena setiap tim cenderung merasa di pihak yang benar ketika terjadi perdebatan mengenai aturan main.

Kehadiran wasit menjadi pemegang segala aturan yang berlaku di pentas sepak bola yang berlangsung. Pertandingan berlangsung di alur yang selaras dengan aturan yang ada yang tertuang dalam aturan pertandingan, Laws of the Game.

Dalam perjalanan wasit sebagai pengadil pertandingan sepak bola, dukungan teknologi pun kian membantu. Kehadiran Video Assistant Referee atau VAR membuat keputusan wasit langsung diuji kesahihannya. VAR, sebagai asisten wasit video, diputar tayangan ulang kejadian di lapangan hijau untuk melihat detail dan berulang-ulang sehingga keputusan dapat diambil secara tepat. Seperti proses gol, pelanggaran berbuah kartu merah langsung, atau kartu kuning kedua, dan kejadian krusial lain sepanjang 90 menit laga.

Bantuan teknologi untuk mendukung kecakapan wasit di lapangan hijau, tidak selamanya berjalan sesuai harapan. Keputusan yang ditinjau dengan VAR, masih saja dikoreksi setelah laga tuntas. Kendati tidak mengubah hasil pertandingan, kesalahan dalam pengambilan keputusan wasit dan perangkat VAR tetap harus dibeberkan.

Itu pula yang diungkapkan Ketua Perwasitan Premier League Inggris, Howard Webb, terkait laga derby Manchester yakni bentrok Manchester United versus Manchester City di ajang Liga Primer Inggris, Minggu 13 September 2026. Hal itu terkait dengan gol tunggal kemenangan City yang dilesakkan Erling Haaland di menit ke-60.

Gol pembeda itu lahir dari umpan silang Josko Gvardiol yang disambut dengan sontekan oleh bomber tajam asal Norwegia untuk membuat publik Old Trafford terdiam. Sang pengadil Michael Oliver sempat menganulir gol itu, karena posisi Haaland sudah offside.

VAR kemudian mengambil peran. Wasit VAR yang dipegang kendali oleh Matt Donohue dan asisten, Blake Antobus, pun membeberkan kondisi serta posisi Haaland sebelum terjadinya gol krusial itu. 

Keputusan menetapkan Haaland onside, artinya gol itu sah. Laga pun berlanjut dan skor akhir tidak berubah, City unggul 1-0 atas tuan rumah Man United.

Ternyata, kontroversi pun bergulir semenjak wasit dengan bantuan VAR memutuskan gol itu sah. Pasalnya, ada kejadian yang silap atau tidak teramati oleh VAR. Yakni sebelum bola dilesakkan Haaland, ada pergerakan pemain City lain yakni Enzo Fernandez untuk menyundul bola. Saat itu, gelandang asal Argentina tersebut berada di posisi offside. Bola memang tidak berhasil disundul oleh Enzo Fernandez, tetapi pergerakan itu telah mempengaruhi jalannya pertandingan. 

Bek Manchester United, Lisandro Martinez yang sebelumnya mengawal Haaland, akhirnya berlari mendekati Enzo. Itu pula yang membuat Haaland berdiri bebas tidak terkawal di tiang jauh, memudahkannya mencocor bola untuk melewati garis gawang Manchester United.

Beberan kronologi itu menjadi landasan bagi Howard Webb, mantan wasit ternama Inggris dan dunia, menyatakan sudah terjadi offside sehingga gol Haaland semestinya tidak sah atau dianulir. Webb menyatakan wasit VAR hanya fokus terhadap Haaland, sehingga mengenyampingkan Enzo Fernandez yang bergerak aktif dan mempengaruhi pertandingan. Itu pula yang membuat wasit VAR Matt Donohue, asisten Blake Antrobus terpaksa 'diparkir' sebagai wujud tanggung jawab.

Kontroversi keputusan wasit, kendati sudah ada bantuan VAR, tetap bakal mengiringi perjalanan sejarah sepak bola. Sebelum era VAR, tentu yang fenomenal yakni 'gol tangan Tuhan' legenda Argentina, Diego Armando Maradona di pentas Piala Dunia Meksiko 1986. 

Wasit pun pernah tidak menyatakan gol hasil tendangan gelandang Inggris Frank Lampard ke gawang Jerman, kendati bola sudah melewati garis gawang setelah sebelumnya membentur mistar gawang pada laga Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Di Tanah Air, keputusan membuat Petrokimia Putra Gresik menjadi 'juara tanpa mahkota' di Liga Indonesia perdana pada musim 1994/1995. Kala itu, bomber asal Brasil Jacksen F Tiago menjebol gawang Persib Bandung yang dikawal Anwar Sanusi pada menit ke-30 pada laga final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Gol itu dianulir wasit Zulkifli Chaniago, kendati pemain Persib tidak ada yang protes, sedangkan Jacksen merasa tidak dalam posisi offside. Dan Persib yang akhirnya juara, lewat gol tunggal Sutiono Lamso yang dilesakkan pada menit ke-76.

Jacksen F Tiago dalam pengakuannya menyatakan tidak pernah lupa dengan gol yang dianulir itu. Saat dianulir, dia mempertanyakan ke wasit apa alasannya, tetap tidak ada jawaban. Padahal tidak ada pelanggaran, tidak offside, serta pemain Persib pun tidak protes.

Sorotan terhadap wasit kemudian terus mengiringi perjalanan kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Perbaikan dan pembenahan selalu mengiringi untuk terus menggerus keputusan kontroversi di lapangan hijau.

Kehadiran wasit asing pun mulai merambah BRI SuperLeague dan berlanjut pula dengan penggunaan VAR. Setelah kehadiran wasit asing di beberapa laga, kini kompetisi elite Indonesia memiliki wasit asing yang bekerja penuh, yakni wasit asal Jepang Yudai Yamamoto (Jepang). Berlabel wasit FIFA sejak 2011, Yudai dikontrak full semusim untuk memimpin laga-laga di BRI Super League 2026/27.

Orang Jepang juga dipilih PSSI untuk menduduki posisi Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa. Pengalaman Ogawa di kompetisi Liga Jepang (J League) diharapan mampu memperbaiki perjalanan kompetisi BRI SuperLeague menjadi kian profesional.

Ogawa menekankan perlunya membangun kesamaan perspektif mengenai Laws of the Game di antara seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia. “Wasit, pemain, pelatih, ofisial klub, media, dan seluruh stakeholder kompetisi perlu memiliki pemahaman yang selaras mengenai Laws of the Game. Kesamaan pemahaman ini akan membantu kita menjelaskan pertandingan dengan lebih baik, mengurangi kesalahpahaman, serta mendukung terciptanya kompetisi yang profesional dan berkualitas,” ucap Ogawa.