Oleh: Tim Football Academy I.League
REGULASI yang diterapkan pada Pegadaian Championship 2025/26 membuka ruang besar bagi para pemain muda untuk tampil dan berkembang. Kesempatan ini pun dimanfaatkan dengan sangat baik oleh sejumlah talenta U21. Tetapi, satu nama benar-benar menonjol. Dengan catatan menit bermain terbanyak di antara seluruh pemain U21, ia tidak hanya dipercaya secara konsisten, tetapi juga mampu membuktikan kualitasnya lewat performa di lapangan.
Sosok tersebut adalah Muhammad Isfandyar Abdillah, gelandang Persiba Balikpapan yang kini menjadi pemain kunci di lini tengah skuat asuhan Muhammad Nasuha tersebut. Pertanyaannya kemudian, faktor apa saja yang membuat Isfandyar mampu muncul sebagai salah satu pemain muda paling bersinar di Pegadaian Championship musim ini?
Musim ini, Persiba Balikpapan kerap bermain dengan formasi 4-2-3-1 atau 3-4-3, dan Isfandyar menjadi figur sentral di lini tengah dalam kedua skema tersebut. Di atas kertas, ia memang sering tercatat sebagai bagian dari double pivot, tetapi perannya jauh dari tipikal gelandang nomor 6 murni. Isfandyar lebih berfungsi sebagai gelandang nomor 8, dengan mobilitas dan keberanian bergerak ke area yang lebih maju. Saat tim menguasai bola, Isfandyar bahkan kerap terlihat naik ke posisi yang lebih ofensif, mengambil posisi yang lebih “advanced”, dan kerap kali membantu serangan di sepertiga akhir lapangan.


Hal inilah yang menjadi alasan di balik kuatnya kontribusi menyerang Isfandyar, terutama jika dilihat dari catatan xG dan jumlah tembakan yang ia lepaskan. Apa yang membuat dirinya sangat efektif dalam menciptakan peluang-peluang tersebut adalah pergerakan tanpa bolanya. Ia mampu membaca ruang yang dapat dieksploitasi, baik dalam fase build-up maupun di sepertiga akhir, lalu memanfaatkan area tersebut untuk melepaskan dirinya dari penjagaan lawan.
Pola serangan yang kerap berulang kali terjadi adalah ketika fullback lawan ditarik melebar untuk mengantisipasi pergerakan winger Persiba, sementara bek tengah harus tetap menjaga area sentral karena harus menjaga Takumu Nishihara. Situasi ini membuka ruang di half-space kanan, tepat di antara bek tengah dan fullback, yang lalu dapat dimanfaatkan Isfandyar melalui penetrasi ke ruang kosong tersebut, dengan harapan rekan setimnya mampu menemukannya dengan umpan yang tepat.
Pendekatan bermain seperti ini juga menjelaskan mengapa statistik umpan progresif dan umpan ke sepertiga akhir miliknya cenderung rendah. Isfandyar lebih sering beroperasi di area yang lebih tinggi dan tidak diberi peran utama untuk memajukan aliran permainan—tugas tersebut lebih banyak diemban oleh bek tengah Persiba Balikpapan serta gelandang bertahan murni yang diturunkan tim Beruang Madu. Ia bukan tipe gelandang yang mendikte permainan lewat sebaran umpan atau umpan pemecah lini, melainkan pemain yang bisa menjadi penerima akhir dari progresi bola yang dibangun oleh rekan-rekannya.
Namun, bukan hanya kemampuan tanpa bolanya yang terbilang menonjol untuk pemain seusianya, Isfandyar juga memiliki kualitas dengan bola yang patut mendapat perhatian. Salah satu aspek permainan yang unggul dan menjadi ciri khas darinya adalah kemampuan dribelnya. Ia mampu melewati lawan dengan mendribel bola, terutama di ruang sempit, yang sangat berguna untuk ‘mengacaukan’ struktur pertahanan lawan karena memaksa pemain bertahan keluar dari posisinya.
Namun, keunggulannya tidak terbatas pada situasi ruang sempit. Isfandyar juga mampu membawa bola dengan kuat dan agresif untuk mendorong tim bergerak maju melalui dribelnya. Kemampuan membawa bola sambil menyerang ruang ini menjadi salah satu aspek teknis yang paling menonjol dalam permainannya, terutama jika dibandingkan dengan pemain-pemain seusianya.
Di sisi lain permainan, kontribusi defensif Isfandyar juga terbilang luar biasa untuk pemain berusia 18 tahun. Ia memiliki kapasitas fisik untuk tampil penuh sepanjang pertandingan setiap pekannya, dengan intensitas yang tetap terjaga sepanjang 90 menit. Aspek yang paling menonjol dari permainannya tanpa bola dalam fase bertahan adalah kemampuannya dalam melakukan counterpressing. Mirip dengan pergerakannya saat menyerang, Isfandyar seolah memiliki insting untuk membaca momen ketika bola berpotensi hilang, lalu langsung ‘menyerbu’ area tersebut guna merebut kembali penguasaan secepat mungkin.
Hal ini tercermin dari tingginya angka ball recovery yang ia catatkan, menandakan betapa aktifnya ia dalam merebut kembali bola melalui aksi-aksi counterpressing. Jika pada umumnya pemain seusianya hanya mampu menjaga intensitas tinggi di babak pertama, Isfandyar justru konsisten terlibat dalam kerja defensif sepanjang laga. Konsistensi inilah yang membuat Muhammad Nasuha menaruh kepercayaan besar kepadanya dan memberinya menit bermain yang sangat signifikan, terlepas dari usianya yang masih sangat muda.
Namun, hal yang kerap menjadi catatan—baik bagi tim maupun dirinya sendiri—adalah aksi lanjutannya setelah berhasil melewati lawan. Isfandyar seringkali terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan berikutnya, sehingga memilih opsi yang kurang tepat atau gagal mengeksekusi umpan dengan baik karena dilakukan dalam tempo yang terlalu cepat, di mana mayoritas final action-nya seringkali gagal menemukan rekan setimnya dengan baik. Jika ia mampu melihat opsi yang ada dengan sejenak, mengambil satu-dua detik ekstra sebelum menentukan keputusan, kualitas permainannya berpotensi meningkat ke level yang lebih matang dan efektif sehingga ia bisa menjadi pemain yang lebih efektif di sepertiga akhir lapangan.
Di sepertiga akhir lapangan, efektivitas umpan Isfandyar masih sedikit di bawah rata-rata. Dari seluruh umpannya di area tersebut, sekitar 64,8% berhasil menemui rekan setim, angka yang menempatkannya di bawah rata-rata pemain lain yang aktif di zona ini. Hal yang sama juga terlihat pada umpan progresifnya ke area lawan. Hanya sekitar 37,1% dari upaya tersebut yang sukses, membuat eksekusinya dalam mengalirkan bola lebih dekat ke gawang lawan masih belum terlalu konsisten dibandingkan pemain selevelnya.

Secara keseluruhan, Isfandyar telah menampilkan performa yang sangat menjanjikan di usia yang masih belia, dan ini menjadi sesuatu yang layak mendapat perhatian lebih. Potensi tersebut bahkan sudah diakui lewat pemanggilannya ke seleksi Timnas U20. Di level Pegadaian Championship, ia bisa menunjukkan performa yang sangat baik, terutama dari pergerakan tanpa bolanya serta kerja defensif yang solid.
Meski demikian, peningkatan dalam pengambilan keputusan dan efektivitas di sepertiga akhir lapangan menjadi aspek penting yang perlu ia kembangkan jika pemain kelahiran Bogor tersebut ingin ‘naik level’ dan menjadi salah satu pemain terbaik di posisinya. Dengan usia yang masih muda, perjalanan perkembangan Isfandyar ke depan tentu akan menarik untuk terus diikuti.