TANGERANG -- FC Bekasi City Women harus puas berbagi angka usai bermain imbang 1-1 saat menghadapi Garudayaksa FC Women pada pekan kedua Indonesia Women's League (IWL) 2026/27 di Indomilk Arena, Tangerang, Minggu (25/5) malam.
Meski sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Sri Maharani di menit ke-56 yang memanfaatkan assist Marsela Awi, FC Bekasi City Women bangkit menyamakan kedudukan melalui sundulan Rosalia di menit ke-69 memanfaatkan umpan akurat Marin Kai. Hasil ini membuat FC Bekasi City Women mengumpulkan dua poin dari dua laga.
Pelatih Kepala FC Bekasi City Women, Rudy Eka Priyambada, menyuarakan kekecewaannya usai laga atas hasil imbang yang didapat anak asuhnya. Ia menilai timnya kehilangan momentum untuk mendulang poin penuh akibat kelengahan dan kekurangdisiplinan taktik di lapangan.
"Pastinya kita kecewa dengan hasil imbang ini karena tidak bisa mendulang poin penuh. Namun,bagaimanapun juga liga ini adalah proses belajar bagi seluruh pemain dan tim," ujar Rudy Eka saat post match press conference.
Rudy menyoroti gol balasan lawan yang lahir dari kelengahan lini belakang saat mengantisipasi bola mati. Menurutnya, situasi transisi bertahan dari skema free kick lawan menjadi evaluasi penting.
"Gol terjadi dari situasi transisi menyerang ke bertahan setelah free kick. Bola memantul (bounce) membuat kita kurang siap mengantisipasi. Kecepatan pemain lawan dalam membuka ruang juga menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diperbaiki untuk laga berikutnya," lanjutnya.
Selain masalah kedisiplinan mengantisipasi bola mati, pelatih berpengalaman tersebut membeberkan masalah tumpulnya lini serang dan kedisiplinan posisi para pemain saat menerapkan skema menyerang.
"Secara alur passing dan permainan sebenarnya kita sudah lebih baik dan enjoy. Tapi masalah utamanya di finishing. Saat menyerang saya menerapkan skema 3-2-5, tapi masih banyak pemain yang kurang disiplin posisi, seharusnya mengisi area sayap malah menumpuk di tengah. Akibatnya build up yang sudah dirancang jadi berantakan," jelas Rudy.
Ia juga menilai intensitas high press yang berlebihan membuat para pemain lupa pada taktik awal untuk memancing pertahanan lawan keluar.
"Pemain terlalu nyaman menguasai bola dan terus high press sepanjang 90 menit. Padahal rencananya kita ingin memancing lawan keluar lalu melancarkan counter attack. Ini jadi pelajaran berharga untuk laga-laga selanjutnya," pungkasnya.