Preview Tim Persija Jakarta

Preview Tim Persija Jakarta

25 Agustus 2026

SUPER LEAGUE 2026-27 PERSIJA JAKARTA
Oleh: Tim Football Academy I.League
 
 
KIPRAH Persija Jakarta di gelaran Super League 2026/27 sangat ditunggu oleh khalayak luas. Dari dalam, ribuan anggota the Jakmania menempatkan harapan besar bagi tim kebanggaan mereka untuk kembali meraih mahkota tertinggi sepak bola Indonesia. Harapan tersebut sebenarnya sempat berkibar di musim yang baru saja berlalu. Namun sayang, Macan Kemayoran hanya sukses meraih posisi ketiga di tangga klasemen akhir kompetisi musim 2025/26.
 
Sedangkan dari luar, masyarakat umum pun juga dibuat penasaran untuk melihat performa tim bertabur bintang tersebut. Bagaimana tidak? Nama-nama langganan tim nasional seperti Pratama Arhan dan Nadeo Arga Winata sudah merapat ke jantung ibukota. Belum lagi sosok legendaris seperti Maman Abdurahman yang kini mendapat tugas penting dalam jajaran staf kepelatihan klub. Dan bicara mengenai sosok di pinggir lapangan, tentu kita tidak bisa melepaskan magnet bernama Shin Tae-yong yang kini menjabat posisi pelatih kepala bagi skuat kepercayaan publik Jakarta tersebut.
 
Apa yang dapat dilakukan oleh Persija di musim yang baru ini?
 
 
 
Sang pelatih Korea Selatan sepertinya menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda dibanding ketika menjadi pelatih tim nasional dulu. Alih-alih menggunakan pola lima pemain bertahan, Coach Shin nampaknya lebih memilih struktur empat bek sebagai sistem utamanya. Adapun skema 4-4-2, 4-3-3, ataupun 4-2-3-1 bisa saja menjadi berbagai alternatif yang dapat dipakai oleh sang nakhoda.
 
Beliau pun kini mungkin dibuat sedikit pening dengan melimpahnya pemain berkualitas yang ada, entah itu rombongan pemain asing baru, barisan penggawa timnas yang terpercaya, hingga armada muda dari akademi yang siap menunjukkan talentanya. Meskipun demikian, terlepas dari berbagai profil pemain serta alternatif formasi yang dapat digunakan Coach Shin dan staf, ada satu pendekatan permainan spesifik yang kerap ia gunakan, terutama dalam ajang pramusim yang baru saja berlalu.
 
Kombinasi di area sayap yang dilakukan Persija ditujukan untuk membebaskan satu pemain ke ruang di belakang lini pertahanan lawan; dalam konteks ini Arlyansyah Abdulmanan yang menusuk ke ruang di half-space kanan saat menyerang.
 
Pola tersebut adalah penyerangan yang banyak dilakukan melalui progresi via sayap. Biasanya, Persija melakukan ini melalui penumpukan pemain di area samping. Tujuannya adalah untuk dapat mempermudah mereka melakukan kombinasi-kombinasi pendek, untuk kemudian mencari pemain bebas yang berlari ke belakang lini pertahanan lawan. Dengan begini, Persija bisa dengan cepat melakukan tusukan dan segera untuk menciptakan peluang.
 
Penumpukan pemain di satu bagian sayap lapangan juga bisa menimbulkan masalah lain bagi pertahanan lawan. Hal tersebut adalah blok pertahanan yang cenderung bergerak ke arah bola sehingga membuka area besar di sisi jauh. Keberadaan satu pemain di area jauh inilah yang dapat membantu Macan Kemayoran untuk bisa melanjutkan serangan apabila lawan dapat menutup berbagai opsi penetrasi di sisi bola yang sudah ramai dengan pemain.
Tujuh pemain Persija menumpuk di area kiri lapangan sebelum Witan Sulaeman memindahkan arah serangan demi mencetak gol melawan Arema FC.
 
Tidak berhenti di situ. Persija pun juga bisa untuk melakukan progres bola melalui tengah. Namun, mereka pun tetap menggunakan pendekatan yang sama, yakni menggunakan kombinasi-kombinasi cepat sebelum menemukan pemain depan via umpan terobosan. Berbagai rangkaian umpan pendek yang agresif inilah yang dapat menjadi senjata Persija untuk merepotkan pertahanan lawan.
Penetrasi lewat tengah berujung pada umpan terobosan yang dilepaskan Witan bagi Arlyansyah dalam laga melawan Persib Bandung.
 
Penumpukan pemain yang diinstruksikan oleh sang juru taktik asal Korea Selatan ini juga punya banyak kegunaan lain. Satu di antaranya adalah membantu anak asuhnya untuk melakukan gegenpressing. Apa itu? Gegenpressing atau counterpressing adalah taktik yang dipopulerkan oleh Jurgen Klopp semasa menjabat sebagai pelatih Liverpool. Dalam taktik ini, para pemain menyerang diharapkan untuk segera bereaksi dan merebut bola kembali apabila si kulit bundar direbut oleh tim lawan.
 
Hal ini jugalah yang sepertinya ingin diterapkan Coach Shin dan staf bagi tim yang bermarkas di Jakarta International Stadium tersebut. Dengan mempunyai banyak pemain yang berada berdekatan, ini membantu para pemain Persija untuk berada dekat dengan bola dan segera menekan pemain lawan demi memenangkan penguasaan si kulit bundar kembali. Hal ini pun tidak hanya dapat dilakukan di satu area saja. Artinya, para penggawa Macan Kemayoran dapat segera melakukan counterpressing, entah itu di bagian tengah maupun bagian pinggir lapangan.
 
Skema gegenpressing yang dilakukan Persija memaksa pemain Persebaya Surabaya melakukan kesalahan sehingga Figo Dennis dapat memenangkan penguasaan bola kembali di lini tengah.
 
Keuntungan lain pun juga dapat didapatkan Persija jika dapat menerapkan taktik ini dengan optimal. Hal tersebut adalah untuk membantu mereka segera melakukan serangan balik secara cepat. Jika bola dapat segera dimenangkan kembali di area lawan, tentu tim lawan akan kesulitan untuk bereaksi karena struktur organisasi pertahanan yang relatif masih berantakan. Alhasil, Persija dapat segera melakukan serangan cepat setelah kembali memenangkan bola.
 
Para pemain kebanggaan Jakarta ini biasanya segera mencari satu pemain menyerang yang berada di dalam atau yang masuk ke area tengah sebagai motor untuk melakukan serangan balik. Adapun serangan transisional ini bisa dilakukan Persija dengan menggunakan tiga atau empat pemain saja. Dengan bola, pemain tersebut lalu dapat melakukan drive atau penetrasi secara individual, sebelum akhirnya menemukan rekan di area lini belakang pertahanan lawan melalui umpan terobosan yang akurat atau melepaskan tembakan bagi dirinya sendiri. 
 
Rangkaian serangan cepat Persija tentu akan sangat membahayakan bagi tim manapun. Entah itu jika bola dimenangkan di tengah lapangan, atau bahkan ketika dimulai dari serangan lawan yang dimulai dari dekat gawang Persija sendiri. Pasalnya, mereka punya pemain-pemain yang tidak hanya cepat, namun memiliki kualitas menggiring bola yang mumpuni, seperti Witan, Gustavo Almeida, hingga yang terbaru seperti Arlyansyah.
 Bola yang dimenangkan oleh Fabio Calonego di lini tengah dengan segera dikonversi menjadi serangan balik cepat yang berbuah gol ke gawang Port FC.
 
Pemanfaatan skema set-piece sebagai cara penciptaan peluang sudah menjadi tren di sepak bola modern belakangan ini. Begitupun dengan Persija, yang kerap membuat tembakan berbahaya melalui situasi ini di musim lampau. Kita pun dapat mengharapkan hal yang serupa dilakukan oleh Coach Shin dengan Macan Kemayoran di musim ini. Pasalnya, aspek itu pula yang juga pernah kita lihat dia terapkan dengan begitu baik kala masih menjabat sebagai pelatih kepala Tim Nasional Indonesia.
Gol Agi Firmansyah melawan PSMS Medan lahir dari skema bola mati yang cermat.
 
Sang pelatih tentu bisa memanfaatkan kreativitasnya untuk membuat berbagai pola dalam situasi bola mati. Entah itu dari tendangan bebas lateral, hingga rangkaian sepak pojok pendek, atau bahkan sepak mula (kick-off), semua bisa ia manfaatkan untuk mendorong anak asuhnya mencetak gol. Di musim yang akan berlangsung ini pun Persija telah kedatangan sejumlah pemain dengan postur menjulang untuk membantu tim. Sebut saja Denis Kolinger (199 cm), dan Radovan Pankov (185 cm) tentu bisa menjadi senjata Macan Kemayoran untuk menggedor gawang lawan melalui duel-duel udara. Dan tidak hanya itu, Persija pun masih punya pemain seperti Jordi Amat (185 cm), Rizky Ridho (183 cm), dan Gustavo (185 cm) yang juga bisa membantu memecah kebuntuan melalui bola mati sebagaimana telah ditunjukkan dalam musim-musim yang lalu.
 
Bicara mengenai bola mati, tentu kita tidak dapat melepaskan diri dari sosok Arhan; bek kiri lokal yang telah dikenal sejak lama mempunyai lemparan jauh mematikan. Atribut spesifik ini pun yang sepertinya menjadi pertimbangan Persija dan Coach Shin untuk merekrutnya ke Jakarta untuk menghadapi Super League 2026/27. Kekuatan dan akurasi lemparan yang dimilikinya tentu dapat menjadi amunisi baru bagi serangan Persija, yang tidak memiliki pelempar jauh handal serta konsisten dalam beberapa musim ke belakang.
 
Sudah hampir satu dekade semenjak Persija terakhir kali menggondol trofi liga di kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia. Dahaga tersebut sepertinya benar-benar ingin mereka tuntaskan di musim yang akan segera dimulai ini. Bermodalkan taktik yang agresif dari Coach Shin dan staf, berlimpahnya pemain lokal dan asing yang berkualitas top, hingga dukungan setia publik Jakarta, Persija tentu punya harapan besar untuk menjadi juara di Super League 2026/2027.
 
Apakah Macan Kemayoran mampu mengakhiri musim dengan membawa sang trofi emas kembali ke jantung ibukota? Menarik untuk ditunggu.