Lemparan Jauh: Opsi Senjata Baru Di Pegadaian Championship 2025/26

Lemparan Jauh: Opsi Senjata Baru Di Pegadaian Championship 2025/26

23 Desember 2025

PEGADAIAN CHAMPIONSHIP 2025-26

Oleh: Tim Football Academy I.League

 

SATU cara untuk merobek jala lawan adalah dari situasi bola mati. Situasi tersebut terjadi ketika ada perhentian dalam permainan, dan permainan dimulai (kembali) dengan menggerakkan bola dari titik tertentu di lapangan, yang sesuai dengan situasi pemicu terjadinya perhentian tersebut. Adapun situasi bola mati termasuk sepak mula (kick-off), tendangan bebas (free-kick; langsung dan tidak langsung), penalti, sepak pojok (corner kick), dan lemparan ke dalam (throw-in).

Menciptakan peluang dari lemparan ke dalam bukanlah hal asing di dunia sepak bola. Bahkan, long throw alias lemparan jauh sudah menjadi tren terbaru di daratan Eropa. Berdasarkan catatan Opta, jumlah rata-rata lemparan jauh di Premier League musim ini telah meningkat dua kali lipat dibanding musim-musim sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa perhatian para pelatih top kini juga telah merambah ke situasi bola mati untuk membantu anak asuhnya menciptakan peluang, terlebih khusus melalui lemparan ke dalam.


 
Sepak bola Indonesia sendiri mengenal nama Pratama Arhan sebagai pelempar jauh andal. Sang bek kiri jebolan akademi PSIS Semarang tersebut telah membuat berbagai lemparan yang berhasil membuat ketar-ketir para pemain bertahan tim-tim elite di dunia, termasuk Jepang dan Argentina. Namun, bagaimana praktik penggunaan long throw di Pegadaian Championship 2025/26?

Opta mendefinisikan lemparan jauh alias long throw sebagai lemparan yang menjangkau setidaknya 20 meter dan berakhir di kotak penalti lawan. Meskipun belum ada pengukuran spesifik mengenai jarak lemparan di Pegadaian Championship 2025/26, namun hingga putaran pertama berakhir setidaknya telah tercipta 204 lemparan ke dalam yang berujung pada aksi pertama di dalam kotak 16 meter. Itu berarti ada rataan sebanyak 2.27 lemparan jauh dalam setiap pertandingan hingga akhir periode tersebut. Menariknya, 61 dari lemparan yang dilakukan (29.9%) sukses diubah menjadi tembakan, serta 15 (7.35%) di antaranya tepat sasaran. Lebih jauh lagi, tiga dari semua lemparan tersebut (1.47%) berhasil dikonversi menjadi gol.

Meskipun data yang dihimpun masih terbatas dan jumlah gol terlihat minim, namun persentase tersebut menunjukkan bahwa lemparan jauh punya potensi tinggi sebagai senjata dalam penciptaan peluang. Ini dikarenakan, berdasarkan riset Paul Power dalam tulisan yang berjudul ‘Mythbusting Set-Pieces in Soccer’ pada 2018, hanya sekitar 1.1% dari semua situasi bola jalan (open play) berakhir menjadi gol. Sedangkan di sisi lain, skema bola mati (1.8%), dan bahkan lemparan jauh di Pegadaian Championship hingga akhir putaran pertama (1.47%) punya kemungkinan yang lebih besar untuk mencetak angka dibanding situasi bola jalan.

Lalu, bagaimana gol-gol tersebut bisa terjadi?


GOL 1 – Marinus Wanewar (Persipura Jayapura, vs Kendal Tornado FC, 28 September 2025)


 
Dalam situasi ini Persipura mempunyai lima pemain di dalam kotak. Yeter Amohoso ditugaskan untuk memberikan lemparan ke Artur Vieira di area tiang dekat. Kemungkinan, sang bek tengah diinstruksikan untuk melakukan operan menyundul (flick header) ke salah satu rekan lainnya di area yang lebih sentral. Namun, Vieira sendiri gagal menyundul bola hasil lemparan Amohoso.


 
Meskipun demikian, bola lemparan jauh sang bek kanan berhasil diantisipasi dengan baik oleh pemain Persipura lain. Adalah Marinus Wanewar yang melakukan aksi dengan cepat untuk menghajar bola ke dalam gawang di saat para pemain lawan masih bereaksi terhadap pantulan bola liar. Ini menunjukkan bahwa lemparan jauh dapat menimbulkan kebingungan bagi para pemain bertahan di dalam kotak penalti apabila tidak mampu mengantisipasi datangnya bola dengan baik.

 

GOL 2 – Enzo Celestine (Persikad, vs PSMS Medan, 11 Oktober 2025)


 
Dalam situasi ini Persikad melakukan lemparan ke dalam di akhir laga. Lemparan ini sedikit berbeda karena eksekusi yang dilakukan Riad Belhadj relatif lebih pendek dibandingkan lemparan lain. Tapi, pergerakan Enzo Celestine ke arah posisi jatuh bola memberikan dia keunggulan dinamisme dibanding para pemain bertahan lawan. Hal ini membantu sang penyerang untuk memenangkan serta menguasai bola yang dilempar ke dalam kotak.


 
Meskipun Celestine tidak berhasil melakukan tembakan langsung ke gawang, namun dia sukses memberikan bola kepada rekannya, Nico Sitepu, di dalam kotak penalti. Aksi ciamik Sitepu pun memaksa sejumlah pemain PSMS untuk mengejarnya, sekaligus membiarkan Celestine menjadi terbuka, dan memampukan sang striker untuk mencetak gol tanpa pengawalan. Ini menunjukkan bahwa lemparan jauh dapat menciptakan kekacauan bagi keteraturan atau organisasi tim bertahan dalam kotak penalti. PSMS sendiri harus rela kehilangan dua poin berharga di kandang akibat aksi yang berawal dari lemparan ke dalam tersebut.


GOL 3 – Felipe Ryan, Kendal Tornado FC, vs Persipal FC, 25 Oktober 2025)


 
Dalam situasi ini Kendal Tornado FC mempunyai lima pemain di dalam dan sekitar kotak penalti. Adalah Ilham Syafri yang diberikan mandat untuk melakukan lemparan jauh ke dalam. Di sisi lain, Persipal malah menempatkan hampir seluruh pemain mereka di area kotak 16 meter. Melihat keunggulan jumlah yang ada, situasi nampak dapat dikendalikan, dan penjaga gawang sepertinya siap menangkap bola dengan mudah.


 
Meskipun demikian, yang terjadi malah sebaliknya. Kiper Persipal, Ramadhan, gagal memetik bola di udara. Si kulit bundar pun bergulir liar ke mulut gawang. Felipe Ryan yang datang dari tiang jauh, sukses bereaksi paling cepat untuk dapat mencetak gol. Ini menunjukkan bahwa lemparan jauh dapat memaksa kesalahan bagi para pemain tim bertahan di area berbahaya. Dan beruntung bagi Kendal, gol ini membantu mereka pulang dari Palu dengan torehan satu poin berharga.

Ketiga gol tersebut menunjukkan potensi lemparan jauh sebagai salah satu opsi dalam penciptaan peluang. Arah laju bola yang berbeda dibanding situasi bola mati lain, serta aspek kejut yang dibawa karena belum banyak tim yang menggunakannya membuat lemparan jauh ke dalam bisa menjadi pilihan penting dalam opsi serangan sebuah kesebelasan. Baik itu kebingungan, kekacauan, dan kesalahan para pemain bertahan, semua dapat diciptakan melalui situasi ini.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk bisa membobol gawang lawan. Dalam olahraga dengan skor kecil seperti sepak bola, harga sebiji gol dapat mengubah nasib sebuah tim. Poin, kemenangan, atau bahkan tiket promosi ke BRI Super League dapat saja ditentukan dari satu ceplosan bola ke jaring tim lain. Dan, satu gol pembeda itu bisa pula lahir dari situasi yang mungkin masih dianggap sebelah mata, yakni lemparan ke dalam.