
ADA satu pertanyaan yang cukup sering saya dengar dalam beberapa tahun terakhir. Kapan sepak bola Indonesia punya kompetisi piala lagi, selain liga?
Pertanyaan yang wajar. Bahkan, saya melihat keinginan itu terus muncul dalam percakapan para pencinta sepak bola kita. Mereka ingin lebih banyak pertandingan, kesempatan klub dari strata berbeda untuk saling berhadapan, dan tentunya satu lagi trofi yang bisa diperebutkan.
Saya memahami harapan tersebut. Sebetulnya, sejak 2022 saat kami diamanahi menjadi Board of Director Liga sudah memiliki rencana menghadirkan kompetisi tambahan seperti terakhir Piala Indonesia yang diselenggarakan PSSI pada 2019 dengan PSM sebagai peraih mahkota juara.
Jadi, ketika I.League Cup akhirnya diperkenalkan pada musim 2026/27, gagasan ini bukan sesuatu yang baru muncul karena desakan publik. Walau tentu saja kami sangat mengapresiasi juga setiap usulan, saran, bahkan kritikan dari publik terkait hal ini. Apalagi di era media sosial saat ini, bahkan usulan-usulan positif itu bisa terkirim langsung via komentar medsos bahkan Direct Message.
Lantas, mengapa baru sekarang? Jawabannya berkaitan dengan sesuatu yang selama ini justru menjadi prioritas kami: membenahi fondasi kompetisi.
Kita tentu masih ingat bagaimana sampai musim 2021, ketidakpastian jadwal pernah menjadi salah satu persoalan terbesar sepak bola Indonesia. Perubahan pertandingan, kendala perizinan, benturan kalender, hingga berbagai konsekuensi operasional menjadi pekerjaan rumah yang tidak sederhana.
Dalam beberapa kesempatan, Ketua Umum PSSI Erick Thohir juga menekankan pentingnya penataan kalender, kepentingan tim nasional, serta penyelarasan kompetisi domestik dan internasional. Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang kami kerjakan. Sebelum menambah kompetisi baru, kami ingin memastikan kompetisi yang sudah berjalan semakin tertata.
Bagi kami, kemajuan tidak selalu berarti menambah sesuatu secepat mungkin. Terkadang, kemajuan justru dimulai dari kemampuan memperbaiki dan menjaga apa yang sudah kita miliki. Tentunya juga harus konsisten dalam pelaksanannya.
Kami ingin setiap langkah terukur, terencana, dan terstruktur. Karena menyelenggarakan turnamen baru mungkin relatif mudah diumumkan, tetapi menjaganya agar berkelanjutan adalah pekerjaan yang jauh lebih besar.
Mengapa formatnya seperti ini? Setelah I.League Cup diumumkan, muncul sejumlah pertanyaan menarik. Mengapa menggunakan fase grup? Mengapa hanya satu pertandingan pada babak gugur? Mengapa tidak memakai sistem dua leg kandang dan tandang?
Saya senang pertanyaan seperti ini muncul. Artinya, publik memperhatikan dan memiliki ekspektasi terhadap kompetisi baru ini. Namun, ada hal menarik yang ingin saya ajak pembaca untuk melihat realita yang ada sebagai referensi. Kali ini bukan apa yang tersaji di FA Cup, EFL Cup atau Copa del Rey di Eropa.
Coba kita lihat apa yang terjadi di kontinen tempat Indonesia berada. Dalam AFC Professional Football Benchmarking Report 2026, kita dapat melihat bahwa penyelenggaraan kompetisi piala di Asia ternyata sangat beragam.
Australia, Jepang, dan sejumlah negara lainnya menggunakan sistem gugur satu pertandingan, dengan beberapa penyesuaian pada fase tertentu. Sementara India, Qatar, dan Oman memiliki kompetisi dengan fase grup yang dilanjutkan babak gugur. Ada yang menggunakan satu pertandingan, ada pula yang dua leg. Bahkan, jumlah kompetisi piala di setiap negara pun berbeda. Ada yang satu, dua, hingga tiga dalam semusim.

Menarik, bukan? Artinya, tidak ada satu format tunggal yang harus diterapkan semua negara. Setiap kompetisi tumbuh mengikuti karakter dan kebutuhannya sendiri. Jadi, persoalannya bukan format mana yang paling benar, melainkan format mana yang paling tepat untuk kondisi sepak bola kita saat ini.
Untuk edisi perdana, I.League Cup melibatkan 38 klub dari BRI Super League dan Pegadaian Championship. Sebanyak 36 klub dibagi dalam 12 grup, dengan setiap klub memainkan dua pertandingan, masing-masing sekali sebagai tuan rumah dan sekali sebagai tim tamu. Juara grup melaju ke babak 12 besar, kemudian seluruh fase gugur berlangsung dalam satu pertandingan.
Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda, yang juga membawa nama Indonesia di kompetisi antarklub internasional, langsung bergabung pada babak perempat final.
Mengapa formatnya relatif sederhana? Karena ruang dalam kalender memang terbatas. Sejak awal, kami tidak ingin kehadiran I.League Cup justru mengganggu jalannya kompetisi liga yang sudah padat. Karena itu, tiga matchday fase grup ditempatkan beriringan dengan matchday 4, 5, dan 6 AFC Champions League Two, ketika Persib menjalani pertandingan pada 4 November, 25 November, dan 2 Desember 2026.
Dengan demikian, saat Persib bertanding di panggung Asia, klub-klub lainnya juga dapat mengisi kalender melalui I.League Cup.
Kami mencoba memanfaatkan ruang kalender yang tersedia, bukan sekadar menambah tanggal pertandingan.
Tentu, format dua leg atau fase grup yang lebih panjang memiliki daya tarik tersendiri. Namun, semakin banyak pertandingan berarti semakin besar pula konsekuensinya terhadap kalender, perjalanan, operasional, dan beban pemain. Format yang tampak ideal di atas kertas belum tentu menjadi pilihan paling bijaksana apabila sulit dijalankan secara konsisten.
Lebih banyak kesempatan, bukan sekadar pertandingan
Ada satu hal yang sejak awal selalu kami tekankan kepada klub. I.League Cup bukan hanya tentang menambah kompetisi dan mencari juara baru. Kami juga ingin turnamen ini membuka ruang bagi pemain yang belum mendapatkan banyak kesempatan bermain di liga.
Itulah salah satu alasan jumlah pemain asing yang dapat dimainkan dibatasi maksimal tiga orang.
Kami berharap klub memanfaatkan turnamen ini untuk memberikan menit bermain kepada pemain lokal, mengembangkan kedalaman skuat, dan memberikan pengalaman kompetitif kepada pemain yang selama ini lebih sering menunggu kesempatan.
Semangat tersebut sudah kami sampaikan sejak sosialisasi rencana I.League Cup dalam Club Owner Meeting, Januari 2026 lalu. Kami juga menyadari bahwa dalam kalender yang padat, terkadang jarak antara pertandingan liga dan I.League Cup cukup pendek, bahkan bisa hanya dua hari.
Namun, situasi seperti itu tidak semestinya selalu diselesaikan dengan mengubah jadwal. Klub perlu mengelola komposisi pemain, melakukan rotasi, serta menilai kesiapan fisik dan pemulihan setiap pemain dengan cermat. Keselamatan pemain tetap harus menjadi pertimbangan utama.
Pendekatan ini sejalan dengan perhatian dalam berbagai kajian beban kerja pemain, tentang pentingnya mengelola menit bermain, pemulihan, dan risiko akibat kepadatan pertandingan. Bagi saya, di sinilah salah satu nilai penting turnamen ini.
Kompetisi tambahan seharusnya tidak hanya menghasilkan lebih banyak pertandingan, tetapi juga lebih banyak kesempatan. Kesempatan bagi pemain untuk menunjukkan kemampuan. Kesempatan bagi pelatih untuk menguji kedalaman tim. Juga kesempatan bagi klub untuk memperlihatkan kualitas pengelolaan skuatnya. Semua itu tentu tetap harus berlangsung dalam persaingan yang kompetitif.
Memulai, lalu terus bertumbuh
Satu hal yang perlu dipahami, I.League Cup bukan kelanjutan dari Piala Indonesia. Ini merupakan turnamen baru yang diselenggarakan I.League, dengan konsep dan karakter kompetisinya sendiri. Tapi pastinya I.League Cup ini juga digelar atas restu PSSI setelah kami presentasikan di depan seluruh anggota Komite Eksekutif PSSI. Sebagai edisi perdana, tentu masih banyak ruang untuk berkembang.
Kami terbuka untuk mengevaluasi format, penyelenggaraan, hingga berbagai aspek lainnya. Bukan tidak mungkin pada musim mendatang kompetisi ini berkembang dengan jumlah pertandingan atau format yang berbeda, sesuai dengan kesiapan dan kebutuhan sepak bola Indonesia.
Tetapi saya percaya, tidak semua hal besar harus dimulai dengan sesuatu yang besar pula. Terkadang, yang dibutuhkan justru keberanian untuk memulai dengan ukuran yang tepat, kemudian menjaganya agar terus tumbuh.
Bismillah, pada 3 November 2026, I.League Cup akan memulai perjalanan pertamanya. Saya berharap kita tidak hanya menyaksikan lahirnya sebuah trofi baru, tetapi juga pemain-pemain yang mendapatkan panggung, klub-klub yang semakin berkembang, dan pertandingan yang memberi warna baru bagi sepak bola Indonesia.
Sebab, pada akhirnya, kualitas sebuah kompetisi tidak semata diukur dari banyaknya pertandingan, tetapi dari nilai yang mampu dihadirkan melalui setiap pertandingan. Dan bagi kami, perjalanan itu baru saja dimulai.