JAKARTA — I.League menyatakan dukungan penuh terhadap sikap tegas Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dalam merespons berbagai insiden kekerasan yang mencederai sepak bola Indonesia. Sebagai langkah konkret, I.League siap mendorong penguatan regulasi dan Kode disiplin bersama PSSI, termasuk kemungkinan penerapan sanksi yang lebih berat hingga pengurangan poin .
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menambahkan bahwa ketegasan tersebut merupakan langkah penting untuk melindungi klub, kompetisi, dan seluruh elemen sepak bola Indonesia, sekaligus menjaga momentum positif yang telah dibangun bersama.
"Kami sepenuhnya mendukung sikap Ketua Umum PSSI. Sepak bola Indonesia sedang berkembang ke arah yang semakin baik. Kompetisi semakin kompetitif, atmosfer stadion semakin hidup, dan suporter tim tamu akhirnya kembali bisa hadir. Semua kemajuan ini harus kita jaga. Jangan sampai tindakan kekerasan justru membawa sepak bola kita kembali mundur," ujar Ferry Paulus.
I.League menyayangkan berbagai insiden kekerasan yang terjadi belakangan ini, termasuk yang menimpa rombongan pemain EPA U18 Persib Bandung dan suporter Persija Jakarta. Rivalitas sepak bola tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan tindakan yang mengancam keselamatan siapa pun.
Menurut Ferry, perkembangan positif kompetisi harus diikuti peningkatan tanggung jawab klub dan seluruh elemen suporter. Karena itu, penguatan ketentuan disiplin perlu dipertimbangkan agar mampu memberikan efek jera sekaligus mencegah potensi konflik yang lebih besar.
"Melihat perkembangan dan potensi konflik yang mulai muncul, kami berpandangan bahwa ketentuan hukuman perlu diperkuat. Sanksi tidak boleh hanya berhenti pada denda atau hukuman yang tidak memberikan efek jera. Kami siap berkoordinasi dengan PSSI untuk mendorong sanksi yang lebih berat, termasuk pengurangan poin bagi klub apabila terjadi pelanggaran serius sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegas Ferry.
I.League juga menekankan pentingnya membedakan pelanggaran disiplin dalam penyelenggaraan pertandingan dengan tindakan kriminal di luar cakupan pertandingan.
Pelanggaran keamanan dan ketertiban di stadion maupun area yang tercakup dalam regulasi pertandingan menjadi bagian dari mekanisme disiplin sepak bola, dengan tanggung jawab klub dan konsekuensi yang ditentukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Sementara itu, tindakan kriminal di luar cakupan penyelenggaraan pertandingan, seperti penyerangan dan penganiayaan, merupakan ranah penegakan hukum oleh Kepolisian. Setiap kemungkinan konsekuensi disiplin bagi klub tetap harus memiliki dasar regulasi dan pembuktian yang sah.
Jaga Kesempatan Suporter Tamu
Ferry menegaskan bahwa penguatan sanksi justru bertujuan melindungi keberlanjutan kebijakan kehadiran suporter tim tamu yang kembali diterapkan musim ini.
Kebijakan tersebut merupakan hasil proses panjang dan pembangunan kepercayaan bersama PSSI, FIFA, Kepolisian, klub, serta seluruh pemangku kepentingan. Kehadiran suporter tamu telah memberikan dampak positif terhadap atmosfer dan daya tarik kompetisi.
"Kami ingin suporter tamu tetap bisa hadir. Justru karena itulah aturan harus ditegakkan lebih tegas. Jangan sampai kesempatan yang sudah diperjuangkan bersama selama ini kembali hilang hanya karena tindakan segelintir orang. Kami tidak ingin klub dan mayoritas suporter yang sudah tertib ikut menjadi korban," jelas Ferry.
Sebagai tindak lanjut, I.League akan memperkuat evaluasi kepatuhan klub, mitigasi risiko pertandingan, koordinasi keamanan, serta pembinaan dan komunikasi dengan komunitas suporter. Penguatan ketentuan disiplin akan dikoordinasikan bersama PSSI melalui mekanisme dan kewenangan yang berlaku.
"Ketegasan ini bukan untuk menghukum sepak bola Indonesia, melainkan untuk melindungi masa depannya. Kami ingin kompetisi terus maju, stadion semakin ramai, dan suporter bisa mendukung klub kebanggaannya dengan aman. Sepak bola kita sudah melangkah maju, dan kita tidak boleh membiarkannya mundur lagi," tutup Ferry Paulus.