Stadion Menteng, Kandang Magis Macan Kemayoran

Stadion Menteng, Kandang Magis Macan Kemayoran

28 April 2026

BRI SUPER LEAGUE 2025-26

MENTENG, kawasan di Jakarta Pusat, hingga kini menjadi salah satu ikon. Kawasan yang dulu juga lekat dengan sepak bola, dengan keberadaan Stadion Menteng.

Stadion Menteng yang tidak bisa dilepaskan dari kejayaan Persija Jakarta sebagai tim sepak bola Ibu Kota. Juga saat tim berjuluk Macan Kemayoran itu merajai kompetisi di Tanah Air.

Pemerintah kolonial Belanda mulai membangun kawasan Menteng pada 1912, seiring dengan perkembangan wilayah serta penyediaan hunian. Berkonsep garden city, kawasan hunian Menteng mendapat sentuhan dari arsitek Belanda FJ Kubatz serta seorang perencana kota, PAJ Moojen.

Kebutuhan akan stadion olahraga, dalam hal ini sepak bola, kemudian diwujudkan pada 1921 dengan membangun Stadion Menteng. Saat itu, stadion terbesar di Jakarta bernama Voetbalbond Indische Omstreken Sport (Viosveld)--atau disebut Lapangan Vios hingga era kemerdekaan.

Stadion dengan luasan mencapai 3,4 hektare itu kemudian diiringi dengan lahirnya Voetballbond Indonesia Jacatra (VIJ). Organisasi yang menaungi  klub-klub sepak bola nasionalis di Batavia itu, berdiri 28 November 1928.

Sejak itu, magis Stadion Menteng menandai pula keperkasaan VIJ di percaturan sepak bola. Empat gelar perserikatan menjadi milik VIJ--cikal bakal Persija--yakni pada 1931, 1933, 1934,dan 1938. Di era kemerdekaan, VIJ kemudian  menjelma menjadi Persija Jakarta semenjak 1950 dan tetap menggunakan markas di Stadion Menteng.

Keperkasaan sebagai tim yang berkandang di Stadion Menteng ditunjukkan dengan sukses Macan Kemayoran memenangi lima gelar juara Indonesia. Predikat juara direngkuh pada 1954, 1964,1973, 1977, dan 1979.
Skuat Persija di era-70an memunculkan jajaran pemain yang mendominasi Timnas Indonesia. Generasi emas yang memainkan pola main 4-3-3.

Terdapat nama-nama kunci, yakni penjaga gawang Sudarno. Kemudian, Sutan Harhara, Anjas Asmara, Nobon Kayamudin, Anwar Ujang. Bercokol pula Oyong Liza, Iswadi Idris, Risdianto. Sedangkan lini serang ditempati Rully Nere, Andilala, dan Sofyan Hadi.

Sempat jeda prestasi hingga 22 tahun, kejayaan Persija dan Stadion Menteng hadir lagi saat era Liga Indonesia. Macan Kemayoran menjadi kampiun kompetisi yang telah menggabungkan Perserikatan dan Galatama sejak 1994.

Trofi juara itu diraih pada musim 2001. Pelatih yang juga legenda Persija Sofyan Hadi meracik tim untuk merebut predikat terbaik di kompetisi terelite Indonesia.

Nama-nama yang menghuni tim utama Macan Kemayoran, yakni penjaga gawang Mbeng Jean. Di lini belakang, ditempati jajaran Ismed Sofyan, Charis Yulianto, Alexander Pulalo, Agus Supriyanto. Posisi gelandang memiliki Luciano Leandro, Imran Nahumarury, Budiman Yunus, serta sektor serang ada nama Gendut Doni, Bambang Pamungkas, serta Widodo C Putro.

Stadion Menteng yang saat ini masih didominasi dengan tribun terbuka di sisi utara, selatan, dan timur, serta tribun beratap di sisi barat. Mes pemain berada di sisi selatan lapangan, dengan tersedia lorong yang tidak jauh di belakang gawang. Tribun tertutup yang sangat sederhana, kendati Persija adalah tim kebanggaan Ibu Kota. Namun, magis Stadion Menteng memberikan aura juara kepada seluruh pemain.

Penonton pun dari berbaagai strata, menyaksikan tim kebanggaan dengan dukungan antusias dari tribun yang didominasi material kayu itu. Bahkan sesekali komedian Komeng, yang saat ini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), terlihat menonton langsung laga Persija di Stadion Menteng.

Selepas juara 2001, pergeseran fungsi Stadion Menteng pun mulai menguar. Stadion magis Persija itu pun akhirnya berubah fungsi menjadi Taman Menteng.
Saat itu, mulailah Persija Jakarta menjadi tim yang berpindah-pindah stadion. Dari Stadion Lebak Bulus, Stadion Utama GBK, bahkan hingga terusir ke Bekasi dengan memakai Stadion Patriot Chandrabaga.

Namun sebagai tim besar, Persija masih mampu juara sekali lagi pada 2018. Bermaterikan pemain seperti Andritany, Ismed Sofyan, Jaimerson, Rezaldi Hehanussa, Rohit Chand, Ramdani Lestaluhu, Marko Simic, Riko Simanjuntak, dengan polesan pelatih asal Argentina, Stefano Cugurra, membuat Persija total memiliki 11 gelar nasional. Yang terbanyak di antara tim-tim yang berlaga di BRI Super League.

Kini Persija setidaknya sudah memiliki kandang yang lebih wah. Stadion megah bernama Jakarta Internasional Stadium, walau ada catatan terkait kondisi rumput yang masih belum prima sebagai lapangan sepak bola elite.

Infrastruktur pendukung pun terus dibenahi. Tidak lama lagi JIS bakal memiliki stasiun KRL yang memudahkan Jakmania hadir di Stadion. Demikian pula dengan jembatan penyeberangan dari Ancol pun sudah digarap, sehingga lahan parkir bakal lebih luas. Persija Jakarta saat ini bersaing di papan atas untuk menjadi kampiun BRI Super League 2025/26. 

Keberadaan JIS menjadi markas Persija, tentu harapannya mencuatkan nama-nama bintang di lapangan hijau, serta diiringi pula dengan prestasi terbaik.
Stadion Menteng telah menghadirkan prestasi panjang bagi Persija. Daya magis stadion yang bertahan selama 85 tahun itu menjadi tempat lahir pesepak bola yang melegenda seperti Djamiat Dalhar, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Anjas Asmara, atau Ronny Pattinasarani.

Mencuatkan generasi Tan Liong Houw, Sinyo Aliandoe, Soetjipto Soentoro, hingga generasi Bambang Pamungkas serta Ismed Sofyan. Kini Persija dan JIS bakal menuliskan sejarahnya sendiri. Tentunya dengan tebaran prestasi dan lahirnya bintang-bintang lapangan hijau yang mengiringi sukses Tim Macan Kemayoran. (era)