Rizky Ridho, Peran Hybrid, dan Cara Membaca Ruang

Rizky Ridho, Peran Hybrid, dan Cara Membaca Ruang

25 September 2026

BRI SUPER LEAGUE 2026-27 PERSIJA JAKARTA

Borneo FC 0-1 Persija Jakarta. Kerim Memija melepaskan umpan silang yang disambut oleh tandukan Alexander Jeremejeff di penghujung babak pertama. Tembakan demi tembakan dilepaskan oleh Juan Villa dkk., tetapi Nadeo Argawinata selalu dapat menggagalkan seluruh percobaan dari skuad Pesut Etam. Satu gol cukup menjadi pembeda persaingan sengit di atas lapangan antarkesebelasan yang berpotensi menjadi peraih trofi BRI Super League 2026/27 ini.  Di atas kertas, pertandingan ini terkesan cenderung monoton. Namun, satu hal yang cukup menarik perhatian dapat terlihat dari sisi taktikal tim asuhan Shin Tae-yong. Aktor utamanya? Pemain andalan pelatih asal Korea Selatan tersebut di Timnas Indonesia, Rizky Ridho.

Di atas kertas, Persija menggunakan formasi 3-4-3 dengan pemain berusia 24 tahun tersebut sebagai salah satu jantung pertahanan tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut. Pankov dan Kolinger menemani di sisi samping pertahanan, serta Memija dan Rio yang dapat melakukan overlap untuk menyerang sisi samping pertahanan lawan. 


Namun, sepak bola tidak dimainkan di atas kertas dan apa yang terlihat di lapangan menunjukkan attacking shape yang berbeda seiring berjalannya pertandingan. Menanggapi Borneo FC yang bertahan dengan hanya satu presser di depan, mengorbankan terlalu banyak pemain pada fase awal build up terasa tidak perlu, terutama ketika itu membuat opsi di area yang lebih tinggi menjadi terbatas. Di sinilah peran Rizky Ridho sebagai “libero” menjadi penting, dengan memposisikan dirinya di lini tengah saat Persija sedang menguasai bola. Dengan begitu, tim asuhan STY mendapatkan keunggulan numerik di sisi tengah lapangan dengan cara yang lebih efisien.


Kelebihan utama dari taktik ini adalah terbukanya ruang di sisi samping, dengan penempatan Ridho yang membuat winger kiri Borneo FC, Redzuan Fachgi, menjadi ‘tertarik’ ke tengah dan melepaskan penjagaannya dari Kerim Memija. Penyesuaian pendekatan ini nantinya memainkan peran penting dalam terciptanya satu-satunya gol di pertandingan ini. Namun, sebelum sampai ke momen tersebut, mari kita lihat terlebih dahulu bagaimana perubahan taktik ini memengaruhi jalannya pertandingan di momen-momen lainnya.

Apa yang membuat peran ini menjadi lebih menarik adalah kebebasan bergerak yang diberikan kepada mantan pemain Persebaya Surabaya tersebut. Alih-alih dimiripkan dengan John Stones saat bersama dengan Manchester City, perannya mungkin dapat lebih terlihat kesamaannya dengan apa yang diemban oleh Riccardo Calafiori bersama Arsenal musim ini. Ridho diberikan lisensi untuk melakukan overlap serta underlap untuk mengeksploitasi ruang yang ada.

Kunci dari taktik ini ada di pemahaman ruang antarpemain. Pada momen di bawah ini, Memija mendapatkan umpan dari Witan untuk menyerang flank kiri pertahanan Borneo FC. Melihat Memija akan kalah jumlah di sisi sayap, Ridho melakukan run-in-behind yang menarik perhatian pemain bertahan sekaligus membuka ruang di area tengah. Memija membaca ruang tersebut dan melakukan penetrasi ke dalam, memberinya beberapa opsi umpan untuk menciptakan peluang bagi Persija. Pergerakan Ridho ini menunjukkan “kesadaran ruang” yang baik. Ia tidak perlu menerima bola untuk memberikan dampak terhadap struktur pertahanan lawan. Dengan menarik pemain bertahan melalui pergerakannya, Ridho membuka jalur bagi Memija untuk masuk ke ruang yang sebelumnya tertutup. Rangkaian ini pada akhirnya menghasilkan serangan yang berpotensi membahayakan bagi Persija.

Taktik ini, secara tidak langsung, membantu membuahkan hasil dalam gol Alexander Jeremejeff di penghujung babak pertama. Posisi Ridho di lini tengah “mengikat” satu pemain bertahan tambahan. Kehadirannya membuat gelandang Borneo FC terpaksa mengikuti pemain lawan, alih-alih sekadar menjaga area yang seharusnya mereka lindungi. Di saat yang sama, pemain di sisi sayap harus lebih waspada terhadap ancaman dari tengah. Konsekuensinya, ruang di belakang pemain sayap Borneo FC pun terbuka, dan Persija pun langsung memanfaatkannya. 

Loncar melihat Fachgi terlalu tinggi posisinya dan mengirimkan umpan terobosan ke ruang yang ditinggalkannya. Memija mengejar bola tersebut dan mengirimkan umpan silang ke arah kepala striker jangkung asal Swedia itu yang dapat mengkonversikannya menjadi gol satu-satunya di pertandingan ini. Inilah salah satu hal yang membuat sepak bola begitu menarik: permainan dibangun dari rangkaian reaksi. Satu perubahan kecil dalam posisi dapat memaksa lawan melakukan penyesuaian lain, yang kemudian membuka ruang untuk dimanfaatkan. Dalam beberapa detik, satu pergeseran kecil pada struktur permainan dapat berujung pada peluang besar.

 

Namun, sebenarnya, Borneo FC melakukan penyesuaian yang cukup tepat sasaran terhadap taktik Persija. Menanggapi kekalahan jumlah di sisi terdepan pertahanan, serta dieksploitasinya sisi samping, tim asuhan Mauro Jeronimo tersebut mengubah shape bertahannya menjadi 4-4-2. Dengan hal tersebut, Persija sedikit mengalami kesulitan dalam memprogresikan bola. Namun, di sini pemahaman ruang antarpemain kembali memainkan peran penting. Untungnya, Persija memiliki pemain di samping Ridho yang selalu mampu membaca situasi dengan cepat dan merespons masalah yang muncul.

Fabio Calonego, pivot Persija pada pertandingan ini, selalu dapat dengan sigap mengisi kekosongan ruang yang ada. Melihat duo bek tengah Persija menghadapi situasi 2v2, pemain asal Brazil tersebut dengan cepat turun ke lini pertama untuk menjemput bola dan membantu progresi. Dengan begitu, Persija kembali menciptakan keunggulan numerik, mengubah situasi di lini pertama menjadi 3v2. Dan ini penting: kemampuan membaca ruang tersebut bukan hanya milik Ridho ketika ia bergantian mengisi peran sebagai bek dan gelandang, tetapi terlihat sebagai pemahaman kolektif di antara para pemain.

Melihat prinsip ini sudah berjalan pada fase awal serangan merupakan tanda positif bahwa ada mekanisme yang mulai terbentuk. Lebih jauh lagi, ini memberi kita gambaran tentang salah satu prinsip sepak bola STY, yang terpenting bukan siapa yang mengisi ruang, melainkan bagaimana ruang tersebut diisi. Prinsip ini juga menciptakan semacam “fleksibilitas yang sulit ditebak”. Lawan tidak hanya harus menghadapi struktur posisi yang statis, tetapi juga rotasi posisi dan pemain yang bisa muncul di area yang tidak mereka duga. Ridho yang menjalankan ‘peran Calafiori’ adalah salah satu contohnya.

Menariknya, ini bukan pertama kalinya STY menggunakan pendekatan seperti ini. Kita bisa kembali ke Indonesia vs Burundi pada Maret 2023, ketika Jordi Amat menjalankan peran serupa. Prinsipnya sama: ketika lawan hanya menempatkan satu presser di depan, tidak banyak alasan bagi Indonesia untuk bermain dengan jumlah pemain yang sama di lini pertama. Satu pemain tambahan dapat ditarik ke tengah untuk menciptakan keunggulan numerik, membuat progresi bola lebih mudah sekaligus memaksa struktur pertahanan lawan bereaksi.

Patut ditunggu bagaimana Shin Tae-yong dan Persija akan memanfaatkan pendekatan ini ke depannya. Dengan profil pemain yang memberinya fleksibilitas taktik, STY punya ruang untuk meracik banyak resep yang memberi rasa baru bagi BRI Super League musim ini. Menu baru kali ini kami rasa layak dipesan untuk kedua kalinya. Namun, apakah ia akan menjadi menu tetap? Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh hasil di lapangan ke depannya.