Oleh: Tim Football Academy I.League
Tiga tahun, tiga titel juara. Persib Bandung telah menemukan formula kesuksesan pada beberapa tahun terakhir, tetapi tahun ini sedikit berbeda.
Federico Barba, Andrew Jung, Frans Putros dan beberapa nama lainnya telah pergi. Namun, ada juga yang akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan yakni Balsa Sekulic, Luka Menalo, Notsuda Gakuto, Mariano Peralta (dan nama lainnya yang belum disebut). Tidak lupa juga kedatangan Sandy Walsh dan Ragnar Oratmangoen, pemain diaspora Indonesia yang akan melengkapi skuad yang akan menghadapi jadwal pertandingan yang semakin padat menyusul diperkenalkannya League Cup.
Meskipun banyak perubahan yang terjadi, kita belum menyebutkan perubahan yang paling besar. Sosok yang memimpin skuad ini dari pinggir lapangan. Igor Tolic diamanahkan untuk menjadi suksesor Bojan Hodak, setelah sebelumnya mendampinginya sebagai asisten pelatih. Hal tersebut membuat transisi ini tidak sedrastis yang mungkin terlihat. Tolic sudah mengenal skuad, klub, serta prinsip-prinsip yang menjadi fondasi kesuksesan Persib dalam beberapa musim terakhir. Namun, kedekatan tersebut justru memunculkan sebuah pertanyaan menarik. Dapatkah Tolic mempertahankan kepastian dan soliditas pertahanan yang membawa Persib menjadi juara, sembari membuat mereka lebih produktif dalam penguasaan bola?
Tanda-tanda awal dari Piala Presiden memberikan sedikit "spoiler" bahwa ia tidak mencoba untuk membangun kembali Persib dari nol. Apa yang dilakukannya adalah memperluas kerangka yang sudah ada, mempertahankan fondasi pertahanan yang telah terbentuk, sembari menghadirkan fleksibilitas posisi yang lebih besar ketika menguasai bola. Perbedaan inilah yang dapat menjadi penentu musim Persib 2026/27.
Membangun permainan tanpa mengorbankan keseimbangan
Apa yang terlihat secara konsisten selama gelaran Piala Presiden kemarin dari Persib Bandung adalah struktur bermainnya. Meskipun bermain dengan formasi awal 4-2-3-1, saat menguasai bola, Persib kerap bertransformasi menjadi bentuk yang menyerupai 3-2-5. Tujuannya bukan sekadar menciptakan lima pemain di lini depan demi mengikuti tren taktik, melainkan lebih ke mempertahankan rest defence yang kuat sembari memberikan kebebasan yang cukup bagi lini depan untuk bergerak.
Dua lini pertama relatif tetap terstruktur. Salah satu fullback dapat bertahan lebih dalam, dengan Kakang Rudianto kerap berperan sebagai bek tambahan, sementara salah satu dari dua gelandang pivot dapat turun ke lini belakang ketika kedua bek sayap bergerak maju. Komposisi pemainnya dapat berubah, tetapi prinsipnya tetap sama: tiga pemain berada di belakang bola, dua pemain melindungi area tengah.
Lima pemain di lini depan memiliki karakter yang berbeda. Di sinilah pergerakan mulai terjadi. Penyerang tengah, gelandang serang, dan para pemain sayap dapat saling bertukar posisi, dengan Balsa Sekulic menjadi titik referensi penting di ujung struktur serangan. Penyerang asal Montenegro tersebut memiliki kekuatan fisik yang dibutuhkan dari seorang No. 9 tradisional, tetapi ia juga nyaman turun ke ruang antarlini untuk menghubungkan permainan. Dan ketika ia turun, ruang yang ditinggalkannya menjadi tanggung jawab pemain lain untuk mengisinya.
Di sinilah peran No. 10 menjadi sangat menarik. Pada Piala Presiden, Berguinho dan Adam Alis menjadi pilihan utama di posisi gelandang serang tengah. Keduanya tidak harus berperan seperti playmaker tradisional yang terus turun mendekati bola untuk mengatur penguasaan permainan. Tugas yang lebih penting justru adalah mengenali ruang yang tercipta dari pergerakan penyerang dan menyerangnya. Tipenya lebih dekat dengan Thomas Müller ketimbang Mesut Özil, tidak terlalu berfokus pada mengorkestrasi permainan, tetapi lebih tertarik menemukan ruang dari mana permainan dapat ditentukan.
Ini merupakan perbedaan yang terlihat kecil, tetapi sangat penting. Ketika Sekulic turun, No. 10 harus bergerak melewatinya. Ketika pemain sayap masuk ke area tengah, seseorang harus tetap menjaga lebar permainan. Ketika salah satu pivot turun ke lini belakang, pemain lain harus mengisi jalur tengah. Karena itu, sistem ini tidak terlalu bergantung pada posisi yang kaku, melainkan pada pemahaman pemain tentang kapan sebuah ruang ditinggalkan dan siapa yang harus mengisinya.
Progresi bukan persoalannya. Penetrasi yang menjadi tantangan.
Dari apa yang mereka tunjukkan selama Piala Presiden, Persib menunjukkan bahwa struktur penguasaan bola mereka berjalan lebih baik dibandingkan produktivitas di sepertiga akhir lapangan. Selama Piala Presiden, mereka hanya mencatat rata-rata 1,2 gol per pertandingan dan 27 sentuhan di kotak penalti lawan per pertandingan. Angka tersebut masih berada di bawah Persija Jakarta (38,8) dan Persebaya Surabaya (35,4).
Namun, ada perbedaan penting di sini. Persib sebenarnya tidak kesulitan dalam membawa bola ke depan. Mereka mencatat rata-rata 38 umpan ke sepertiga akhir per pertandingan, hanya kalah dari Persija yang mencatat 42,8. Mereka mampu memajukan bola dan mengontrol pertandingan dalam periode yang cukup panjang. Masalahnya muncul setelah mereka tiba di area tersebut. Possession dan kontrol permainan tersebut tidak secara konsisten berubah menjadi akses ke kotak penalti. Ini menunjukkan bahwa persoalannya lebih terletak pada koneksi akhir daripada proses build-up awal. Persib mampu mencapai sepertiga akhir, tetapi membutuhkan lebih banyak pemain yang mampu mengubah keunggulan teritorial tersebut menjadi umpan yang menembus lini pertahanan terakhir, cutback, kombinasi di sekitar kotak penalti, atau pergerakan ke belakang garis pertahanan.
Di sinilah rekrutan baru menjadi relevan, terutama Mariano Peralta. Pemain asal Argentina tersebut hadir sebagai rekrutan utama yang diharapkan menjadi sosok kreatif yang konsisten. Dan pertandingan melawan Sabah FC menunjukkan tanda-tanda yang sangat menjanjikan dari kemampuannya, baik saat menguasai bola maupun ketika tidak menguasai bola. Ditambah dengan Luka Menalo yang dapat memberikan opsi tambahan bagi lini serang untuk membawa bola dan menciptakan situasi dari area sayap. Balsa Sekulic menawarkan titik referensi yang berbeda di posisi penyerang tengah. Pertanyaannya adalah apakah kombinasi pemain tersebut mampu mengubah penguasaan bola Persib yang terkontrol menjadi penguasaan bola yang lebih mengancam. Sebab, kontrol tanpa penetrasi pada akhirnya hanya akan menjadi penguasaan bola yang mandul.
Fondasi yang tidak perlu dirombak Tolic
Jika ada satu aspek dari identitas Persib yang hanya memiliki sedikit alasan untuk diubah oleh Tolic, itu adalah struktur pertahanan mereka. Persib hanya kebobolan 22 gol dalam 34 pertandingan liga musim lalu, dan tanda-tanda awal di bawah Tolic menunjukkan bahwa soliditas pertahanan tetap menjadi prioritas. Dalam lima pertandingan Piala Presiden, mereka hanya kebobolan dua kali.
Fondasi pertahanan Persib adalah mid-block. Mereka tidak dibangun untuk terus-menerus melakukan high pressing. Sebaliknya, Persib membiarkan lawan mengalirkan bola sebelum meningkatkan agresivitas ketika bola memasuki zona tekanan yang telah ditentukan. Dua pemain terdepan memegang peran penting dengan menutup jalur progresi melalui area tengah. Posisi mereka mendorong lawan untuk mengalirkan bola melalui sisi lapangan, alih-alih menembus bagian tengah.
Ketika bola memasuki lini tengah, mekanisme utama Persib mulai bekerja. Salah satu gelandang tengah bergerak menekan pemain yang menguasai bola, sementara gelandang lainnya menutup ruang di belakangnya. Ketika bola berpindah, keduanya dapat bertukar peran. Mekanisme ini menyerupai gerakan pendulum: satu pemain menyerang bola, sementara pemain lainnya melindungi ruang yang ditinggalkan. Hal terpenting bukanlah tekanan yang dilakukan oleh seorang pemain secara individual, melainkan hubungan dan koordinasi di antara kedua gelandang tersebut.
Koordinasi tersebut membuat lawan kesulitan untuk bermain langsung menembus struktur pertahanan Persib di area tengah. Lawan justru diarahkan ke sisi lapangan, dan pilihan mereka menjadi lebih mudah diprediksi, mengalirkan bola kembali ke belakang, melakukan progresi melalui sisi lapangan dan pada akhirnya mengirimkan umpan silang, atau mencoba mengirimkan umpan diagonal kembali ke tengah ketika lini tengah Persib sudah siap melakukan tekanan. Persib tidak berusaha merebut bola di setiap area lapangan. Mereka berusaha membuat area-area tertentu di lapangan menjadi tidak nyaman bagi lawan. Ini merupakan pendekatan yang sangat berbeda dalam melakukan pressing.
4-2-3-1 berubah menjadi struktur yang berbeda tanpa bola
Hal menarik lainnya adalah bagaimana struktur menyerang dan bertahan Persib saling terhubung dengan begitu baik. Formasi 4-2-3-1 berubah menjadi 3-2-5 ketika Persib menguasai bola. Tanpa bola, Persib dapat kembali ke struktur pertahanan yang lebih konvensional, dengan No. 10 bergabung ke lini depan sehingga tim bertahan dalam bentuk 4-4-2.
Di sinilah nilai dari struktur 3-2-5 menjadi semakin jelas. Struktur ini tidak hanya dirancang untuk membantu Persib menyerang, tetapi juga membuat mereka sulit diserang balik. Ketika kehilangan bola, sudah ada cukup banyak pemain yang berada di belakang bola. Tiga pemain dalam rest defence melindungi dari serangan langsung, sementara dua gelandang memberikan lapisan perlindungan tambahan di depan mereka. Artinya, Persib dapat menyerang dengan lima pemain tanpa sepenuhnya mengorbankan keamanan pertahanan.
Namun, menggambar struktur tersebut di papan taktik adalah satu hal. Membuat 11 pemain mampu menjalankannya secara intuitif, penguasaan bola demi penguasaan bola, adalah hal yang berbeda. Bukti awal menunjukkan bahwa Tolic mampu mempertahankan kedisiplinan tersebut. Penampilan Persib di Piala Presiden dalam aspek ini pun sangat mengesankan. Namun, tantangan yang sesungguhnya adalah mempertahankan level tersebut sepanjang musim, terutama ketika mereka harus menghadapi padatnya jadwal dan tuntutan untuk menjaga performa di berbagai kompetisi.
Pertanyaan utama untuk musim 2026/27
Melihat bagaimana Persib bermain selama beberapa musim terakhir bersama Bojan Hodak dan sekarang di bawah arahan Igor Tolic, mereka tidak perlu berubah menjadi tim yang sepenuhnya berbeda. Mereka hanya perlu menjadi "lebih berbahaya" tanpa kehilangan soliditasnya.
Fondasi pertahanan mereka sudah terbentuk. Mid-block terorganisasi dengan baik, struktur transisi berjalan solid, dan para pemain terlihat nyaman bermain dalam kerangka yang relatif terkontrol. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah lini serang mampu menambahkan dimensi baru. Dan yang terpenting, apakah Persib mampu mengubah kontrol mereka di sepertiga akhir menjadi akses yang lebih konsisten dan lebih bermakna ke dalam kotak penalti?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan lebih menentukan daripada sekadar apakah Tolic mampu mereplikasi sistem Hodak secara persis. Karena seharusnya memang tidak demikian. Tugas Tolic bukan untuk menciptakan kembali Persib dalam tiga musim terakhir, melainkan mengambil bagian-bagian yang telah terbukti berhasil—kedisiplinan bertahan, rest defence, serta kontrol terhadap area tengah—lalu membangun sesuatu yang lebih ekspansif di atas fondasi tersebut.
Tiga gelar sudah menunjukkan apa yang mampu dilakukan Persib ketika mereka sulit dikalahkan. Langkah berikutnya adalah membuktikan bahwa mereka tidak hanya sulit dikalahkan, tetapi juga sulit dihentikan. Di situlah perbedaan antara sekadar melanjutkan sebuah siklus dan benar-benar memulai siklus yang baru.