JAKARTA - Persija menuntaskan musim dengan catatan statistik yang mengesankan. Macan Kemayoran menjadi tim dengan jumlah tembakan ke gawang terbanyak, yakni 213 shots on target dari total 536 percobaan, keduanya menjadi yang tertinggi di kompetisi.
Tak hanya itu, Persija juga tercatat sebagai tim paling produktif ketiga dengan torehan 65 gol, hanya berada di bawah Malut United FC (68) dan Borneo FC Samarinda (74). Dominasi penguasaan bola yang konsisten di hampir setiap pertandingan pun menjadi penegas identitas permainan tim besutan Mauricio Souza, yakni tampil dominan dan agresif dalam menyerang.
Meski begitu, Persija sempat mengalami beberapa laga ketika dominasi permainan tak berujung hasil maksimal. Saat menghadapi PSM Makassar (0-2), Semen Padang FC (0-1), Persib (0-1), dan Arema FC (0-2), Persija gagal memecah kebuntuan meski unggul dalam penguasaan bola.
Lantas, apakah itu menjadi pertanda bahwa pola permainan Persija mulai terbaca lawan? Mauricio Souza menepis anggapan tersebut.
“Jika lawan bisa membaca permainan kami, kami tidak akan menjadi tim dengan jumlah shots on goal terbanyak di musim ini. Kami adalah tim yang paling banyak menembak ke arah gawang lawan. Kami juga tim dengan expected goals tertinggi. Ini bukan kata-kata saya, ini adalah data statistik dari aplikasi penyedia jasa statistik di seluruh dunia. Kami memegang hampir semua statistik penyerangan di kompetisi ini,” ujar Mauricio.
“Jadi, tim yang bisa melakukan penyelesaian akhir lebih banyak dari lawan dan memiliki expected goals tertinggi adalah indikasi bahwa kami bekerja dengan baik. Karena itu, saya tidak setuju jika dikatakan lawan mudah membaca permainan kami,” tuturnya lagi.
Namun, Mauricio memahami bahwa statistik pada akhirnya tetap harus berjalan seiring dengan hasil akhir. Dalam sepak bola, kemenangan tetap menjadi tujuan utama. Mauricio menegaskan bahwa ada hal-hal yang masih bisa dikontrol oleh timnya, terutama terkait performa dan cara bermain di lapangan.
“Saya tidak mau mencari alasan, tapi tim saya harus bermain sesuai apa yang dilatih. Dalam 90 persen pertandingan, kami bermain seperti yang kami latih. Kami memang tidak bisa mengontrol hasil akhir, tetapi kami bisa mengontrol performa di lapangan,” katanya.