GIANYAR -- Sepak bola memang selalu mempunyai cara unik untuk mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu pertandingan yang sama. Seperti yang akan dialami oleh Gustavo Almeida yang membela tim Java United FC melawan Persija Jakarta.
Gustavo Almeida yang kini berseragam Java United adalah mantan pemain Persija yang sudah siap menebar ancaman pada laga pekan ketiga BRI Super League 2026/27 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Sabtu (19/9).
Menurut Gustavo, laga nanti, bukan sekadar perebutan tiga poin biasa, melainkan sebuah panggung reuni yang datang lebih cepat dari yang dibayangkan. Pemain dengan posisi striker ini sebelumnya selalu menjalani laga dengan dukungan penuh The Jakmania.
Penyerang asal Brasil itu banyak mengukir kenangan manis bersama mantan timnya dengan torehan-torehan golnya. Tapi, kali ini roda sepak bola bergerak dengan cepat di mana Gustavo harus berdiri dengan lambang Java United di dadanya, menatap rekan satu timnya di masa lalu sebagai rival.
"Tiga pertandingan terakhir saya di kandang (Persija), merupakan momen yang bagus. Saya melihat banyak gol dan meraih banyak keberhasilan," kata Gustavo Almeida.
Meski begitu, ia tidak merasa canggung dengan kondisi yang akan ia hadapi pada laga mendatang. Gustavo hanya bisa pasrah sebagai seorang yang menjunjung tinggi profesionalisme yang sangat paham dengan hukum alam di dunia sepak bola.
Ia tetap menghormati keberadaan suporter fanatik Persija yang pernah memberinya dukungan tanpa henti saat dirinya berseragam Macan Kemayoran. Gustavo merangkum realitas kariernya dengan memberikan target kemenangan untuk tim yang dibelanya saat ini.
Gustavo mengaku tidak menjadikan alasan perpindahan venue laga pekan ketiga antara timnya melawan Persija itu harus digeser ke Pulau Dewata.
Keputusan perpindahan lokasi pertandingan itu membuat timnya harus merombak ulang peta kekuatan yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari, termasuk skenario set piece yang sudah mereka persiapkan untuk menghadapi atmosfer di Jakarta.
Ia menyebut selain mereka harus merubah skenario baru, Almeida justru bersyukur lantaran dirinya memiliki kenangan yang cukup baik dengan Stadion Kapten I Wayan Dipta dan optimis timnya bisa meraih poin penuh untuk dibawa pulang ke Semarang.
Gustavo memilih bersikap realistis. Baginya, tugas pemain hanyalah mengeksekusi apa yang ada di depan mata.
“Tapi inilah sepak bola, semuanya bisa berubah setiap saat. Hari ini saya di sini, besok saya bisa berada di sana. Itulah sepak bola. Kami hanya menerimanya dan datang ke sini untuk memberikan pertandingan yang bagus. Mudah-mudahan kami bisa mendapatkan tiga poin,” tutur Almeida.
Sementara itu, di balik rasa hormatnya pada masa lalu, Gustavo tidak datang ke Bali untuk bernostalgia. Namun, ia datang atas nama profesionalisme.
Bahkan, secara terbuka mengakui telah mengantongi catatan khusus terkait barisan pertahanan mantan timnya. Seperti nama-nama bek yang dulu bahu-membahu menjaganya dari gempuran lawan, seperti Jordi Amat, kini justru jadi sasaran utamanya untuk dijebol.
“Kami memiliki target sebagai tim, dan saya berharap kami bisa mencapainya. Untuk target pribadi, saya juga punya target terhadap beberapa pemain, termasuk Jordi Amat dan pemain-pemain di lini belakang,” kata Gustavo.
Pertandingan di Bali kali ini bukan soal romantisme kenangan di Jakarta. Bagi Gustavo Almeida, ini adalah pembuktian bahwa ke mana pun roda nasib membawanya berlabuh, ketajaman instingnya di depan gawang lawan tak akan pernah berubah.