Di Balik Padatnya Jadwal Persib, Memahami Realitas Kalender Kompetisi

Di Balik Padatnya Jadwal Persib, Memahami Realitas Kalender Kompetisi

16 Oktober 2026

BRI SUPER LEAGUE 2026-27 BORNEO FC SAMARINDA PERSIB BANDUNG

Oleh: Asep Saputra 
(Direktur Kompetisi I.League)


DALAM beberapa hari terakhir, saya mencermati berbagai komentar, kritik, dan keresahan terkait padatnya jadwal Persib Bandung di musim ini. Ada yang berharap pertandingan liga dapat digeser agar Persib memiliki waktu persiapan lebih baik untuk berlaga di Asia. Ada pula yang mempertanyakan kepedulian I.League, bahkan menganggap jadwal yang ada justru sebagai upaya kotor mempersulit perjuangan Persib.

Saya memahami keresahan itu. Ketika klub Indonesia berjuang di kompetisi Asia, tentu kita ingin mereka tampil dalam kondisi terbaik. Bukan hanya Persib, tetapi juga Borneo FC Samarinda yang musim ini sama-sama membawa nama Indonesia. Harapan tersebut juga menjadi kepentingan kami di I.League.

Namun, ada beberapa hal yang perlu dilihat agar persoalan ini dapat dipahami secara lebih utuh. Sebab, apa yang terlihat sebagai satu pertandingan dengan jadwal terlalu berdekatan, sesungguhnya merupakan bagian dari kalender panjang yang saling terhubung.

Dan persoalan ini bukan sesuatu yang baru kami sadari setelah muncul kritik. Sejak sebelum musim dimulai, kami sudah mengetahui bahwa kalender kompetisi 2026/27 akan menjadi salah satu yang paling menantang untuk disusun.

Tantangannya Sudah Terlihat Sejak Musim Lalu
Sejak paruh kedua musim lalu, melalui dua kali Club Owner Meeting, I.League telah menyampaikan gambaran tantangan kalender kompetisi 2026/27. Khususnya bagi siapapun juara dan runner-up Kompetisi yang akan berkiprah di Kompetisi regional dan Asia.

Musim ini memang tidak biasa. BRI Super League 2026/27 baru dapat dimulai pada 4 September 2026 karena agenda ASEAN Hyundai Cup 2026. Sementara itu, Piala Asia 2027 yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027 mengharuskan kompetisi domestik menyediakan jeda Panjang.

Di tengah keterbatasan tersebut, kami tetap harus menyelenggarakan 34 pekan pertandingan, mengakomodasi jeda internasional, serta memperhitungkan agenda kompetisi antarklub AFC dan AFF.

Putaran pertama harus diselesaikan pada Desember, sebelum memasuki jeda Piala Asia 2027 dan periode kedua registrasi pemain melalui Transfer Matching System (TMS) FIFA. Setelah kompetisi kembali berjalan, kalender putaran kedua masih harus menghadapi jeda Lebaran, FIFA Match Day bulan Maret 2027, serta kemungkinan berlanjutnya kiprah klub Indonesia ke fase gugur kompetisi Asia.

Sementara itu, musim ditargetkan selesai pada 5 Juni 2027. Kami bahkan telah berkomunikasi langsung dengan AFC terkait penyelesaian kompetisi yang melewati batas normal akhir Mei, termasuk konsekuensinya terhadap proses administrasi keikutsertaan klub Indonesia di kompetisi AFC musim berikutnya.

Mengapa batas akhir musim ini penting? Karena kalender kompetisi tidak berhenti pada satu musim. Kompetisi musim 2027/28 direncanakan dimulai pada awal Agustus 2027. Artinya, penyelesaian musim ini akan memengaruhi persiapan dan keberlangsungan musim berikutnya.

Jumlah pertandingan tetap sama, tetapi waktu yang tersedia semakin sempit. Dan situasi tersebut menjadi jauh lebih berat bagi klub yang harus mengikuti empat kompetisi sekaligus.

Mengapa Persib dan Borneo FC sudah kami ajak bicara sejak Juni? Karena memahami tantangan tersebut, kami tidak menunggu sampai jadwal selesai dibuat untuk kemudian membicarakan persoalannya.

Pada 19 Juni 2026, I.League secara khusus telah bertemu dengan Persib Bandung dan Borneo FC untuk membahas kalender musim 2026/27. Pertemuan itu berlangsung sebelum jadwal kompetisi difinalisasi. Bahkan, pada hari yang sama, kami sudah menyampaikan kepada media bahwa kami tengah menyiapkan pengaturan khusus bagi kedua klub tersebut.

Kami memaparkan gambaran kalender domestik, potensi benturan dengan pertandingan AFC dan ACC (ASEAN Club Championship) Shopee Cup, serta berbagai kemungkinan penyesuaian yang dapat dilakukan.

Sejak awal, kami menyadari bahwa Persib dan Borneo FC menghadapi beban berbeda. Selain BRI Super League, keduanya juga mengikuti kompetisi antarklub AFC, ACC Shopee Cup, dan League Cup. I.League sempat mengusulkan kepada AFF agar wakil Indonesia di ACC Shopee Cup berasal dari peringkat pertama dan ketiga kompetisi domestik. Tujuannya agar beban pertandingan internasional tidak terkonsentrasi pada dua klub teratas.

Usulan itu sempat dipertimbangkan. Namun, melalui pembahasan dalam pertemuan darurat Competition Committee, AFF akhirnya tetap memutuskan bahwa Indonesia harus mengikuti ketentuan keikutsertaan berdasarkan peringkat pertama dan kedua.

Keputusan tersebut harus kami hormati, meskipun kondisi geografis Indonesia, jumlah peserta kompetisi, dan tantangan perjalanan antarklub berbeda dengan banyak negara ASEAN lainnya. Artinya, dukungan terhadap Persib dan Borneo FC bukan baru dibicarakan ketika kritik muncul. Sejak Juni, jauh sebelum kompetisi dimulai, kami sudah duduk bersama untuk mengantisipasi persoalan yang kini menjadi perhatian publik.

Menggeser Pertandingan, Mengapa Tidak Sesederhana Itu? 
Saya melihat ada pertanyaan yang berulang dalam berbagai komentar. Mengapa pertandingan Persib tidak ditunda saja? Mengapa tidak digeser agar pemain memiliki waktu pemulihan lebih panjang sebelum atau setelah bertanding di Asia?

Pertanyaan itu wajar. Tetapi jawabannya memang tidak sesederhana memindahkan tanggal. Dalam menyusun kalender, kami tidak hanya melihat satu pertandingan. Setiap perubahan harus memperhitungkan jadwal lawan, waktu pemulihan pemain, perjalanan antarkota dan antarnegara, ketersediaan stadion, hingga benturan dengan agenda internasional.

Ada satu kondisi lain yang juga penting dipahami. Ketika jadwal BRI Super League 2026/27 disusun, jadwal pertandingan AFC dan AFF belum seluruhnya ditetapkan secara final. Bahkan, draw kompetisi AFC baru berlangsung pada akhir Agustus, ketika jadwal Kompetisi domestik sudah dirilis. Karena itu, sejumlah tanggal pertandingan liga awalnya disusun berdasarkan asumsi hari pertandingan internasional. Apakah klub akan bermain pada Rabu atau Kamis, misalnya, belum semuanya dapat dipastikan.

Begitu jadwal internasional ditetapkan, kami harus kembali melihat kemungkinan penyesuaiannya. Salah satu contoh adalah pertandingan Garudayaksa FC melawan Persib Bandung. Dalam kalender awal, pertandingan tersebut dijadwalkan pada 26 Oktober 2026. Saat itu, hari pertandingan Persib di AFC Champions League Two belum dipastikan, apakah akan berlangsung pada Rabu atau Kamis.

Setelah jadwal AFC diterbitkan dan pertandingan Persib ditetapkan pada Rabu, 28 Oktober, I.League memajukan laga melawan Garudayaksa FC menjadi 25 Oktober 2026. Penyesuaian ini merupakan konsekuensi dari kepastian kalender AFC yang baru diperoleh kemudian, sekaligus upaya memberikan tambahan waktu pemulihan bagi Persib. Tentu, tambahan satu hari belum menjadikan jadwal sepenuhnya ideal. Namun, contoh ini menunjukkan bagaimana proses penyesuaian memang terus dilakukan berdasarkan perkembangan kalender internasional.

Persoalan berikutnya justru lebih kompleks. Ketika satu pertandingan ditunda, pertanyaannya bukan hanya apakah pertandingan itu bisa dipindahkan. Pertanyaan terpenting adalah ke mana pertandingan tersebut akan dipindahkan tanpa menciptakan masalah baru.

Kompetisi bukan rangkaian pertandingan persahabatan yang dapat digeser kapan saja. Ada 18 klub, 34 pekan pertandingan, dan kepentingan seluruh peserta yang harus dijaga.

Coba Kita Lihat Kalendernya Secara Utuh
Untuk memahami situasinya, saya mengajak kita semua melihat kalender pertandingan Persib sepanjang musim 2026/27. Bukan hanya satu atau dua pertandingan yang sedang dipersoalkan, melainkan keseluruhan kalender dari September 2026 hingga Juni 2027.

Kalender Persib Bandung musim 2026/27 memperlihatkan irisan jadwal BRI Super League, AFC Champions League Two, ACC Shopee Cup, League Cup, serta jeda internasional. Kalender dapat mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan kompetisi.
Dari gambaran tersebut, kita dapat melihat betapa terbatasnya ruang yang tersedia.

Ada periode ketika Persib harus menjalani pertandingan domestik dan internasional secara bergantian, dengan waktu perjalanan dan pemulihan yang singkat.

Kami memahami betul tantangan itu. Namun, ketika muncul usulan memindahkan pertandingan tertentu, kami juga harus melihat apa yang terjadi setelahnya. Apakah November masih memiliki ruang? Apakah Desember memungkinkan ketika putaran pertama harus diselesaikan? Apakah pertandingan dapat dialihkan ke Februari atau Maret, ketika masih ada potensi fase gugur AFC dan AFF serta jeda Lebaran?

Lalu bagaimana dengan April dan Mei, ketika seluruh pertandingan yang tersisa harus diselesaikan sebelum musim berakhir?

Tanggal yang tampak kosong di kalender belum tentu merupakan tanggal yang tersedia untuk pertandingan. Jika penundaan terus dilakukan tanpa ruang pengganti yang memadai, pertandingan akan menumpuk pada akhir musim. Dalam skenario tertentu, penyelesaian kompetisi bahkan bisa bergeser hingga akhir Juni atau Juli 2027.

Ini tentu bukan solusi yang baik, termasuk bagi klub yang harus mempersiapkan diri untuk kompetisi internasional musim berikutnya. Belum lagi konsekuensinya terhadap administrasi keikutsertaan di kompetisi AFC serta persiapan Super League 2027/28 yang direncanakan dimulai pada awal Agustus.

Itulah sebabnya, setiap usulan penyesuaian harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan kalender, bukan keputusan yang berdiri sendiri.

Kami Tidak Mengatakan Jadwal Ini Ideal
Saya ingin menegaskan satu hal. Kami tidak menutup mata terhadap padatnya jadwal yang dihadapi Persib maupun Borneo FC. Kami juga tidak mengatakan bahwa seluruh pengaturan yang tersedia sudah ideal.
Ada situasi ketika pilihan yang tersedia sama-sama memiliki konsekuensi. Dalam kondisi seperti itu, kami harus mencari pengaturan yang paling memungkinkan, meskipun belum sepenuhnya memenuhi harapan semua pihak. 

Itulah realitas yang kami hadapi. Tetapi keterbatasan kalender tentu bukan alasan untuk berhenti mencari solusi. Justru di situlah tanggung jawab kami sebagai operator kompetisi.
Kami harus menjaga keseimbangan antara kepentingan klub Indonesia yang berjuang di Asia dan keberlangsungan liga domestik. Mendukung Persib dan Borneo FC tidak boleh berarti mengabaikan kepentingan klub lain. Sebaliknya, menjaga kalender liga juga tidak boleh membuat kami mengesampingkan kebutuhan wakil Indonesia di kompetisi internasional. Dua kepentingan ini tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya harus dijaga bersama.

Tantangan Belum Selesai
Kami juga menyadari bahwa tantangan penjadwalan belum berhenti pada kalender yang sudah diterbitkan. Apabila Persib dan Borneo FC melaju ke fase gugur kompetisi AFC maupun AFF, potensi penyesuaian jadwal kembali terbuka. Terutama ketika pertandingan leg pertama dan kedua berlangsung dengan jarak satu pekan. Situasi seperti ini dapat menyulitkan penempatan pertandingan liga di antaranya, terlebih dengan mempertimbangkan perjalanan internasional dan kebutuhan pemulihan pemain.

Persoalan tersebut juga telah menjadi bagian dari komunikasi langsung kami dengan AFC. Kami terus mendorong koordinasi yang lebih baik antara penyelenggara kompetisi internasional dan liga domestik agar dampak penjadwalan dapat diminimalkan. Karena itu, komunikasi dengan Persib dan Borneo FC akan terus berjalan. Setiap perkembangan akan kami evaluasi berdasarkan kondisi aktual, dengan tetap memperhitungkan kepentingan seluruh peserta kompetisi.

Kami tentu berharap kedua klub dapat melangkah sejauh mungkin di Asia. Prestasi mereka bukan hanya membanggakan suporter masing-masing, tetapi juga berkontribusi terhadap reputasi dan peringkat sepak bola Indonesia di tingkat internasional.

Tujuannya Sama, Jalannya Memang Tidak Sederhana
Kami menghargai kritik, perhatian, dan masukan dari para suporter, pengamat, maupun pemerhati sepak bola Indonesia. Kami percaya semua itu lahir dari harapan yang sama: melihat klub Indonesia semakin kompetitif dan berprestasi di Asia.

Namun, saya juga berharap persoalan jadwal dapat dilihat secara lebih menyeluruh. Bukan hanya dari satu pertandingan, melainkan dari keseluruhan kalender, berbagai keterbatasan yang ada, dan konsekuensi dari setiap keputusan.

Mendukung klub Indonesia di Asia bukan sekadar menunda pertandingan liga. Dukungan yang sesungguhnya adalah mencari solusi yang dapat dijalankan, tanpa menciptakan persoalan yang lebih besar bagi klub maupun kompetisi secara keseluruhan.

Itulah yang terus kami upayakan, sejak perencanaan kalender, pembahasan khusus dengan klub, koordinasi dengan AFC dan AFF, hingga penyesuaian pertandingan ketika kondisi memungkinkan. Kami memahami bahwa hasilnya belum tentu sepenuhnya ideal. Tetapi upaya mencari solusi tidak pernah berhenti.

Pada akhirnya, tujuan kita sama. Kami ingin Persib dan Borneo FC berprestasi setinggi mungkin di Asia. Kami juga ingin Super League semakin kuat, kompetitif, adil, dan berkelanjutan. Sebab liga domestik yang kuat dan klub Indonesia yang berprestasi di Asia bukan dua tujuan yang terpisah. Keduanya harus tumbuh bersama.